Membaca Rumah Kertas

Awalnya penasaran dengan buku ini setelah ditwitkan oleh bernard batubara dan diulas di blognya. Jadilah saya memesan ini sebagai hadiah untuk ulang tahun. Hadiah yang sedikit memaksa kata teman saya.

Saya membaca buku ini lima jam dipotong dengan ngintip linimasa Twitter dan membalas chat di WhatsApp.

Saya setuju seribu persen dengan Bara, bahwa buku tipis ini adalah semacam tempat singgah sebentar yang akan membawa pembacanya berimajinasi macam-macam dalam waktu yang cukup lama.

Berawal dari seorang dosen perempuan, Bluma Lennon. Perempuan ini membeli buku puisi Emily Dickinson di pusat pertokoan, membacanya dalam perjalanan pulang, lalu mati ditabrak di tikungan pertama tak jauh dari toko buku tempatnya membeli buku itu.

Dari situ perjalanan sebuah buku dimulai. Buku yang tiba lebih lambat dari kematian Bluma. Perjalanan ini bukan perjalanan biasa lebih dari itu perjalanan ini semacam perjalanan yang disengaja oleh takdir. Buku itu sampai di alamat Bluma dengan kondisi yang aneh. Rekan Bluma yang menemukan buku itu penasaran bagaimana buku itu bisa kembali ke pemiliknya (sebab dalam buku itu ada catatan Bluma untuk seseorang yang dia hadiahi buku itu).

Rasa penasaran itulah yang mengawali perjalanan panjang menuju kota-kota jauh, menuju percakapan-percakapan tanpa jeda, menuju isi kepala seorang “gila” bernama Carlos Brauer.

Semua di dalam buku ini adalah penyuka buku yang amat sangat gila. Jika boleh berkata, segala hal bagi mereka adalah buku. Kita tidak membayangkan akan sampai di titik berburu buku-buku tua dari tahun yang amat jauh, semisal edisi pertama Borges, naskah teater Yunani paling tua, puisi-puisi penyair Peru dari abad ke sembilan belas dan hal-hal lain yang tak terpikirkan oleh kita.

Di buku ini, Brauer dikisahkan punya lebih dari dua puluh ribu judul buku. Angka yang sangat luar biasa untuk seseorang yang menyimpan semuanya dalam rumahnya. Kegilaan berlanjut dan tak bisa ditahan. Brauer barangkali kerasukan hantu buku atau memang ia pribadi yang eksentrik (silakan simpulkan sendiri setelah membaca).

Novel tipis ini adalah kisah tentang dunia buku, perpustakaan dan takdir lain yang bersinggungan dengan buku juga bahkan takdir buku itu sendiri. Membaca ini saya dibawa ke banyak imajinasi. Mulai dari rak-rak buku yang memuat begitu banyak buku, rumah yang tak lagi memiliki dinding karena ditutup buku-buku, orang-orang gila di luar sana yang menyamakan buku sebagai salah satu pemuas nafsu mereka dan begitu banyak hal lain yang termuat dalam 72 halaman.

Saya lalu mengingat bagaimana saya punya kesenangan mengatur tata letak buku. Meletakkan karya-karya penulis ini di sisi kiri, meletakkan buku-buku puisi di rak lain, meletakkan buku-buku paling favorit di samping tempat tidur dan hal lainnya.

Novel ini jenis yang tak bisa ditinggalkan atau “diselingkuhi” dengan buku lain sebagaimana kebiasaan saya selama ini. Hanya saja kebiasaan karena telampau tipis, saya dilanda perasaan sedih ketika cerita Brauer ini berakhir.

Novel ini wajib dibaca jika kalian punya kegandrungan yang tak bisa dijelaskan akan buku. Setelah ini saya pun akan rajin-rajin melihat blog Bara dan melihat buku apa lagi yang harus dibaca. Untuk selera bacaan, mungkin saya akan menjadikan Bara semacam penunjuk jalan sebab telah “menuntun” saya bertemu dengan Rumah Kertas dan Gempa Waktu.

Like what you read? Give ama achmad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.