menulis kalian dalam kalimat-kalimat yang tak puitis.

Saya selalu percaya sahabat itu saudara yang lahir dari rahim lain. Beberapa orang bahkan lebih saudara dari pada saudara kandung sendiri.

Tulisan ini mungkin jadinya akan seperti surat atau apalah, entah.

Saya pemilih. Saya penggugup, sekaligus pemalu. Di film-film musikal anak – anak SD, sutradara akan menciptakan sosok saya dengan rambut kepang dua, pipi tembem dan berdiri di sudut, ketakutan.

Ya. Sering kali saya juga adalah sosok yang tak terlihat dan lebih sering terlupa.

“Eee maaf siapa namanya tadi, mbak?”

Atau

“Mbak bilang apa tadi?”

Kalimat ini sering kali saya temui, entah orang itu yang lupa atau tuli atau memang saya (yang seperti tadi saya bilang) adalah sosok yang mudah terlupa.

Sampai akhirnya, saya ketemu dua orang. Orang jauh yang sama sekali belum pernah saya ketemui. Satunya guru puisi saya dan satu lagi tempat saya curhat dan bergosip.

Setiap hari ada saja yang kami perbincangkan. A sampai Z, puisi sampai mimpi atau bahkan urusan ruang tamu sampai dapur. Dengan mereka saya menemui kenyamanan. Banyak hal yang tidak saya dapat dari orang-orang di sekitar saya. Mereka juga orang-orang yang tak pernah menggunakan kalimat semacam itu kepada saya.

Saya lupa mencatat kapan tanggal pasti saya berkenalan dengan mereka, yang pasti sudah lebih tiga tahun.

Mencatat mereka berdua artinya mencatat hari-hari penuh cerita (saya menulis ini sambil sedikit-sedikit terisak).

Pernah suatu kali saya ingin sekali bisa bertemu mereka. Keinginan itu tak pernah terwujud. Sampai akhirnya saya tak lagi berkeinginan muluk-muluk untuk bertemu mereka. Keinginan saya sederhana saja, terus diberi waktu bersama mereka.

Orang-orang mungkin memandang skeptis persahabatan model begini. Saya menjalaninya dengan senang-senang saja. Mau menangis, silakan. Tak teguran tiga hari juga silakan. Tapi seperti trampolin, saya dan kedua sahabat saya itu akan kembali, lagi dan lagi. Mulai lagi tertawa, mulai lagi sok serius, atau bergosip.

Pernah juga kami berangan-angan tinggal satu kota. Tapi tiba-tiba terlintas perkataan seorang penceramah (yang saya lupa namanya) bahwa persaudaraan atau persahabatan itu seperti piring di rak piring. Jika berjarak kita tak akan mendengar suara benturan dan sebaliknya jika dekat suara dari gesekan piring-piring itu akan terdengar.

Lucu juga. Tapi begitulah adanya. Saya memilih keduanya sebagai sahabat dan guru. Jarak hanya kilometer dan angka-angka. Dari mereka saya dapat hal-hal yang tidak saya dapati dari orang terdekat saya yang fisiknya bisa saya sentuh.

Kami telah melewati banyak fase. Fase punya anak, pindah rumah, menikah, wisuda, pindah kota dan lain-lain. Atau fase amat sangat galau sampai yang bisa dilakukan hanya menangis bersama.

Saya pernah mendengar bahwa pertemanan yang usianya melewati tujuh tahun akan bertahan seterusnya sampai maut yang melerai. Mudah-mudahan kami akan sampai di situ. Melewati usia tujuh tahun dan bertahan seterusnya. Sampai Doraemon menyediakan pintu ke mana saja dan Tuhan yang pemurah memberi kami cinta yang kadarnya tak akan berkurang.

Semoga.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ama achmad’s story.