Pada sebuah Serenade

Ada nada yang jatuh, katamu, di pagi yang tak sempat jadi hari. Serupa suara gerimis yang menyisip diam-diam di telinga kita

Malam ini yang terkabar hanya lagu, not-not lirih yang bertemu dengan lengang beranda.

Di sini, kita sesungguhnya sedang menyongsong sebuah masa di mana sepi merentangkan tangan, memeluk tubuh dari belakang.

Di hadapan dua lampu yang kehilangan nyala, di atas kursi kayu kosong itu, kita berkenalan dengan kepergian.

Sesudahnya, yang tertinggal di serenade nomor sekian ini, hanya dingin.

Dan c sharp minor yang kehilangan bunyi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.