Rabu dan Kata-kata

Sering kali, kata-kata punya cara sendiri untuk saling bertaut. Seperti hari ini (Rabu selalu jadi hari favoritku), kata-kata memilih bertandang sore hari ketika langit mulai redup.

Lalu jadilah ini, kata-kata yang memilih jadi puisi – menjadi frasa-frasa yang saling memeluk.

Fragmen Kesetiaan

Seperti swastamita pada arunika, sejauh jarak siang dengan malam; karena waktu muskil saling peluk, sebab jarak kerap tak mampu saling lekap.
Tapi di alamat-alamat yang menyimpan kita, kata-kata perpisahan adalah dingin lantai dan derit pintu yang menutup.
Engkau tak akan jadi masa lalu yang dikenang sebagai dendam. Sedang aku belajar tak gusar seperti jam pasir.
Kau tahu, suatu ketika di kedai ini seseorang memasang gerimis di jendela. Di cangkir kopiku, namamu menjadi kata paling akhir yang kuseduh dengan tersedu.
Inilah fragmen, perihal kesetiaan yang hendak kurawat, agar kita yang sementara menjadi abadi di lajunya waktu.

(Ama Achmad dan Diki Umbara)

Jakarta – Banggai 25 Januari 2017

Ah ya, Rabu mungkin akan selalu jadi hari favorit meski tanpa kabar baik atau pelukan. Setidaknya, di ujung hari selalu ada yang tinggal, seperti puisi ini juga hal lain yang menolak lupa.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ama achmad’s story.