Ramadan

Akhirnya tahu yang betul adalah Ramadan bukan Ramadhan atau Romadhon atau yang lainnya. Meski sesungguhnya saya suka pelafalan Ramadhan dari pada Ramadan.

Malam ke-15 hari ini. Saya baru sadar ketika melihat twit seorang teman. Saya merasa Ramadan terlalu cepat! Sangat cepat sampai saya disadarkan bahwa ini sudah pertengahan Ramadan.

Jika punya hari favorit, maka saya juga punya bulan favorit yaitu bulan Ramadan. Saya merasa Ramadan adalah “sesuatu.”

Jika kau belum sempat memperhatikan, cobalah lebih peka. Sepoi, teduh, panas yang tak menyengat, saya bahkan merasakan udara yang manis setiap kali Ramadan akan tiba. 15 hari sebelum Ramadan, saya sudah merasakan itu.

Memasuki Ramadan, bukan hanya sensasi tadi yang saya rasakan tapi semuanya menjadi beberapa kali lipat lebih banyak. Rasa iba pada orang lain bertambah dari biasanya. Saya rindu beribadah sehingga otomatis laku ibadah saya lebih baik dari bulan lainnya. Saya merasa semua dimudahkan. Sesekali coba rasakan, bagaimana Ramadan menghadirkan banyak hal baik dan istimewa.

Lepas dari itu, tahun ini saya didera kesibukan yang wow sekali. Sampai saya lupa menghitung bahwa sekarang sudah tarawih ke-16. Saya yang tersadar langsung tiba-tiba merasa rindu dan takut. Rindu pada Ramadan. Takut ditinggalkan dan meninggalkan Ramadan.

Saya menyukai Ramadan dari bangun sahur sampai tidur malam. Saya menyukai paginya yang hijau, siangnya yang teduh dan sorenya yang syahdu.

Bagaimana denganmu?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.