satu hari (lagi) di kotamu yang ramai

sesuatu menarikku, mendatangi kotamu. bandar kecil penuh hiruk pikuk – keramaian-keramaian yang tak kenal selesai.

hampir petang, hujan datang begitu deras. tempat ini begitu lengang hanya ada detak rintik yang bersuara keras di atas atap.

ingatanku pulang, pada satu masa di mana percakapan-percakapan kita adalah melulu tentang setangkup senyum dan janji saling menggenapi. waktu itu, lampu-lampu di atas kepala seperti mengambil suaramu dan merekam suaraku.

kemudian rasa haru yang kutahan-tahan dengan sangat, luruh. cahaya bumi redup, hujan yang tak juga reda dan lengang di kedai ini membuatku sekali lagi menginginkanmu.

aku ingat betul, potongan kalimatmu kala itu, pertemuan ini semacam kebetulan, keniscayaan yang dijawab langit atas ingin angan dalam kepala.

lalu kita dipisahkan oleh jalan-jalan dan musim yang tak baik. cuaca melerai simpul yang sama-sama kita ikatkan di jari manis kiri. waktu, barangkali, hanyalah sesuatu yang mengantarmu kepada lupa tapi tidak padaku.

seperti sajak ini, kalimat-kalimatnya hanyalah gema sunyi yang begitu beku, sebelum akhirnya kita berani saling berucap rindu (lagi).

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ama achmad’s story.