Saya, Kampungan

Ya, saya kampungan. Maksud saya begini, ketika jalan-jalan atau berlibur menjadi hal yang begitu populer sekarang, saya masihlah orang yang sama. Orang yang sama yang tak menyukai jalan-jalan kalau itu tak ada hubungannya dengan kesukaan saya.

Dari kecil, saya terbiasa di rumah. Disediakan buku bacaan dan televisi (walaupun saya kurang suka menonton siaran televisi Indonesia). Saya dididik untuk selalu di rumah. Papa saya dengan keterbatasan ekonominya berusaha keras “menahan” saya di rumah. Menahan dalam arti, saya jarang pergi jalan-jalan, berwisata atau apa pun yang sejenisnya.

Aktivitas luar saya hanya sekolah, kemping (jika ada kewajiban kemping dari sekolah), kerja kelompok di rumah teman, les sore dan hal normal lainnya. Ketika teman-teman saya berwisata ke pantai atau ke tempat wisata lain di sekitar kota, saya berada di rumah. Itulah mungkin yang membuat saya menjadi kampungan. Malas jalan-jalan. Saya selalu berpikir untuk apa jauh pergi ke tempat permandian misalnya, jika hanya untuk mandi, makan lalu pulang lagi ke rumah. Saya tak suka repot seperti itu. Buat saya itu merepotkan. Atau ke pantai, foto-foto lalu pulang. Itu juga absurd buat saya.

Lain hal jika saya harus ke kota ini, ke kota itu, ke desa sana, ke desa sini untuk sesuatu yang personal atau keharusan. Semisal diundang ke kota itu untuk menghadiri acara. Atau ke desa itu untuk satu keperluan penting.

Jika saya harus keluar rumah, bisa dipastikan adalah karena hal di atas tadi. Hampir setahun saya “keluar rumah” mengurus kegiatan (FSB 2017). Kaki saya tiba-tiba memanjang menjangkau tempat-tempat yang dulu saya hindari. Kaki saya mengharuskan saya ada di situ. Saya rela dan ikhlas ada di situ.

Bedanya adalah karena berhubungan dengan kesukaan saya maka saya rela meninggalkan “kenyamanan” saya untuk itu. Melipat selimut, mengistirahatkan tempat tidur dan menjauhkan bantal. Saya rela.

Piknik buat saya adalah berbaring di kamar sembari membaca buku. Tak ada yang lebih menyenangkan dari piknik selain opsi di atas itu. Saya bukan tipe penyuka flying fox, arung jeram, hiking, atau sejenisnya. Pada dasarnya saya mudah lelah jadi hobi piknik saya itu pas sekali. Piknik ala saya mungkin terbentuk karena didikan orang tua. Tapi alih-alih berontak, jaman itu saya senang sekali diberi banyak majalah Bobo dan buku-buku untuk “dihabiskan” di rumah.

Bohong jika saya tak pernah memimpikan ada di Maldives atau di salah satu pantai di Bali atau di Leiden atau di London atau di Aceh atau di mana pun itu. Saya memimpikan berada di sana satu waktu. Lalu saya mencoret Bali dan Maldives dari bucket list. Saya masih masih mempertahankan Leiden, London dan (tentunya sebagai muslim) Mekkah juga Madinah. Leiden dan London karena keinginan saya untuk belajar di sana. Kenapa saya mencoret Bali dan Maldives sebab untuk pantai dalam kota yang jaraknya hanya 3 kilo meter pun saya terlalu berat melangkah.

Seperti hari ini, minggu ke dua April. Semua teman mengajak saya ke tempat wisata air terjun. Dari kemarin saya sudah menolak. Menolak dengan alasan yang sekiranya dibenarkan dan masuk akal bagi mereka.

Hari minggu buat saya adalah berbaring, membaca dan tak mandi sampai sore. Jika di sela-sela berbaring saya tertidur, itu bonus. Jika tidak maka bacaan saya sangat bagus hingga saya tak tertidur.

Kaki saya hanya memanjang karena sesuatu yang berhubungan dengan kesukaan. Saya memang terlalu kampungan untuk hidup hari ini ketika istilah traveler, hijab traveler, solo traveling, dan yang seperti itu sedang ramai di mana-mana.

Dan dengan keras kepala, saya memilih tetap kampungan. Tak perlu menginisiasi diri dengan melakukan traveling solo pertama ke Bandung, misalnya. Saya cinta selimut, tempat tidur, bantal dan guling di kamar. Saya cinta buku-buku yang menuntut dibaca segera.

Tapi kembali lagi semuanya ini adalah soal selera. Sekali lagi selera!

(Ini ditulis ketika rumah sedikit sepi karena orang-orang menghabiskan minggu mereka dengan berkunjung ke suatu tempat)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.