(Tentang) Festival Sastra Banggai

Kali ini saya mencoba menulis sesuatu yang sangat serius yaitu tentang Festival Sastra Banggai 2017 atau yang kami singkat FSB 2017.

Saya lupa kapan tepatnya kami (Babasal Mombasa) merencanakan acara ini. Samar-samar dalam ingatan saya, ide ini muncul ketika saya dan tiga teman lain ngobrol-ngobrol tentang buku, minat baca dan kota kami yang (hampir) kehilangan identitas. Waktu itu kami sama-sama kagum (kagum sekaligus iri hati tepatnya) dengan perhelatan besar sastra di kota-kota seperti Makassar, Jakarta, Bali, Yogyakarta dan Padang. Sungguh di kota yang jauh dari toko buku dan amat dekat dengan toko penjual motor ini, kami berempat bisa dibilang sunyi sendiri. Dari sini akhirnya kami nekat merencanakan perhelatan sastra yang kami beri judul Festival Sastra Banggai.

Nekat dan gila. Dua kata itu cocok dengan niat kami berempat. Modal kami cuma keinginan agar Luwuk Banggai punya identitas baru, kota dengan wisata edukasi, kota yang berbangga hati menyelenggarakan pesta kata-kata, kota yang beraksara dan seterusnya, dan seterusnya. Lalu kami membayangkan MIWF (kebetulan saya pernah diundang di sini dan seorang teman lain pernah dua kali menjadi relawan di sini), membayangkan UWRF (teman kami yang satunya pernah tinggal di Bali dan pernah melihat UWRF) sehingga kami akhirnya sepakat bahwa FSB akan meminjam konsep dari dua acara ini. Nah kegilaan dilanjutkan, kami mengumpulkan banyak orang dari macam-macam latar belakang. Orang-orang yang biasa berkegiatan, melaksanakan macam-macam acara dan mereka semuanya ternganga ketika kami menjelaskan maksud kami. Semuanya pesimis dengan angka kesuksesan acara (mengingat acara semacam ini bukan sesuatu yang mudah untuk disosialisasikan atau dipromosikan). Sudah matang benar dalam kepala orang-orang jika sastra itu adalah sesuatu yang membosankan dan tak menyenangkan. Akhirnya kami tiba pada keputusan untuk melibatkan pemerintah daerah dalam acara ini, sebab secara tidak langsung identitas Luwuk Banggai yang beraksara dimulai dari sini dan itu sudah pasti merupakan kewajiban pemerintah daerah untuk mewujudkannya. Pintu terbuka serta merta kami merasakan sejuk dukungan dari pemerintah daerah. Upaya kami untuk menjelaskan ke pihak-pihak terkait selalu penuh perjuangan (baca; penuh dengan rupa-rupa model penjelasan), sebab bagi mereka perayaan sastra itu hal yang baru, mereka tak bisa membayangkan akan seperti apa bentuknya nanti. Kami pun sudah menentukan tema yaitu “Rayakan Kata, Bumikan Ilmu.” Dari tema ini kami bermaksud FSB akan melahirkan acara sastra yang tidak hanya menghibur tapi juga bermanfaat buat orang banyak.

Jejaring. Seperti laba-laba dan tokoh pahlawan berseragam merah biru itu, kami menemukan kekuatan baru di jejaring ini. Si ini membawa si itu bergabung. Si itu mengajak si anu. Seterusnya begitu, sehingga kami makin banyak dan kerja makin nyata. Baru-baru ini kami sukses mengadakan pre event pertama yang mengundang lima pemateri (dua orang dari luar Luwuk Banggai). Pre event ini dimaksudkan sebagai ajang promosi dan sosialisasi untuk FSB. Meski sempat diwarnai hujan badai (hujan dan badai dalam arti sebenarnya), acara ini terbilang sukses. Semua pulang dengan mata bengkak, kaki pegal tapi dengan senyum lebar. Di pre event kami bertemu dengan Aslan Abidin (kurator tetap MIWF) dari beliau, saya dan teman-teman akhirnya mendapat tambahan nama-nama penulis yang akan diundang. Termasuk penulis luar negeri yang menurut beliau sangat suka berpartisipasi dengan acara semacam ini.

Selanjutnya karena meminjam konsep MIWF atau UWRF kami akhirnya bersiap untuk menerima tamu-tamu penulis Indonesia yang luar biasa untuk datang ke kota kami yang ehem kata orang-orang cantik (kata orang-orang ya). Salah satu yang saya ingat seperti perkataan Aslan Abidin bahwa sungguh sayang sekali kota secantik ini tak melahirkan banyak penulis.

Ah ya kami juga membuka penerimaan relawan dari mana saja untuk berpartisipasi di FSB 2017. Formulirnya bisa kalian dapat di www.festivalsastrabanggai.com.

Like what you read? Give ama achmad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.