Tentang Kasta Pembaca

Sudah lama saya memikirkan ini, tentang selera bacaan orang-orang. Tadi saya lihat twit seorang teman yang berdebat dengan seseorang yang lain tentang bacaan.

Buat saya, membaca itu sama dengan makan dan buku-buku adalah makanannya. Sayangnya kecenderungan saat ini semacam ada yang memilah-milah pembaca buku dengan buku-buku bacaannya. Yang tampak kemudian adalah jika kau membaca buku bergenre ini kau akan tampak pintar atau dianggap pintar atau dianggap wow, sebaliknya jika kau hanya membaca buku itu (buku kebanyakan) maka kau hanya seorang pembaca saja tanpa predikat pintar atau wow.

Saya pernah mengalaminya ketika beberapa orang datang ke rumah dan bertanya paling suka buku apa. Saya menjawab beberapa nama penulis dan langsung dijawab orang-orang itu dengan “oh fiksi ya” atau “hmm saya tak suka fiksi, saya mengkonsumsi buku-buku terjemahan non fiksi” atau hal lain yang tampak wah.

Membaca novel dan puisi buat saya piknik paling menyenangkan dan murah. Saya cukup menyeduh kopi lalu membaca buku dengan posisi apa pun yang saya inginkan. Saya tak mencoba meng-wow-kan diri dengan membaca hal-hal sulit yang bikin kepala saya panas. Walaupun kadang saya membaca non fiksi tapi dengan pola baca yang lebih lambat dari membaca buku-buku fiksi.

Oh ya membaca buku non fiksi biasanya saya lakukan dalam toilet pribadi ketika akan mandi atau melakukan aktivitas biologis (kau pahamlah maksudnya apa). Entah kenapa membaca buku non fiksi akan menyenangkan di dalam toilet.

Buat saya apa pun alasan orang membaca, semuanya kembali ke selera masing-masing seperti makan bubur ayam diaduk atau tak diaduk. Kau bisa membaca 2000 atau bahkan lebih novel cinta, kau bisa membaca 2000 atau lebih jurnal medis atau buku non fiksi atau apa pun itu. Semuanya adalah asupan untuk kepala dan kehidupanmu.

Jika ada yang bilang menulis itu menyembuhkan, maka saya ingin menambahkan bahwa membaca juga menyembuhkan. Saya sering kali sembuh dari perasaan haru tak jelas dengan membaca atau kadang ketika saya amat sangat marah, buku puisi selalu berhasil meredakan amarah saya.

Buat saya terlalu absurd mengkotakkan pembaca ini dan itu. Pembaca sendiri adalah pembelajar yang rasa ingin tahunya luar biasa. Pembaca juga adalah orang-orang yang meleburkan dirinya dalam kata-kata dan percaya pada buku semua akan baik-baik saja. Bukankah akan wow jika kita melahap semua buku tanpa terganggu “kasta pembaca” itu? Melahap fiksi dan non fiksi seharusnya seperti ritual makan nasi dengan sayur yang kita lakukan setiap hari.

Tak perlu memusingkan hal-hal tak penting semisal anggapan orang terhadap bacaan kita. Bukankah di kitab suci sendiri kita diperintahkan untuk membaca?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.