Tiga hal yang tak saya sukai dari kota ini
- Tak ada toko buku. Saya sunyi sendiri sejak pindah ke kota ini. Tempat kesenangan saya, toko buku dan penjaga toko yang ramah tak saya temui di sini. Membeli buku harus pergi ke kota besar yang jaraknya satu jam dengan pesawat atau nitip beli ke orang lain. Jadilah saya tukang nitip judul ini itu setiap kali ada saudara atau sahabat yang pergi ke kota. Seringkali ketika sudah tidak enak hati, saya memilih beli online yang ongkirnya selalu bikin dompet saya mengeluh.
- Kota ini terlalu biasa bagi kita. Kenapa? Sederhana saja, di sini tak ada warung mie kesukaan kita. Warung yang ramainya bikin wajahmu sedikit cemberut. Di sini juga tak ada pantai favorit tempat kita selalu jalan-jalan sore, menunggu matahari pulang. Di sini juga tak ada warung bakso kesukaan kita. Kau sempat bilang bukankah di mana-mana semua bakso sama. Saya tersenyum waktu itu. Susah menjelaskan perbedaannya di mana.
- Jarak antara pagar rumahku dan pintu rumahmu adalah 1200 kilometer jalan darat. Ya, di sini tak ada kau. Itu menjadi salah satu yang membuat saya tak suka dengan kota ini. Ketiadaanmu. Pertemuan yang sesekali kata orang-orang adalah rindu-rindu yang tak tuntas, saya setuju. Dikalikan dengan metode apa pun, rindu kita tak pernah tuntas. 365 hari dikurang 35 hari jumlah pertemuan kita di antara deret angka di tahun-tahun yang memanjang, hasilnya masih 330 hari rindu. Dalam pelajaran ekonomi, kita ini rugi. Ah perihal rindu memang bukan bagian kita untuk bicara, apalagi menyangkut jarak dan jumlah temu. Biarkan saja, katamu. Asal ada 35 hari untuk berpelukan dan menenangkan sedikit gemuruh rindu.