Magnolia

Aku adalah manusia, penghuni planet yang bernama Bumi, yang sejauh ini masih menjadi satu-satunya planet berpenghuni. Aku hidup bersama manusia lainnya. Ada banyak manusia di sini yang notabene terbagi menjadi dua yaitu wanita dan pria, meskipun kini batasan itu sudah mulai kabur sejak munculnya istilah “kesetaraan gender” dan “LGBT” yang aku sendiri masih bingung itu apa. Aku sendiri masuk ke dalam kategori wanita dan aku bersyukur akan hal itu.
 
 Aku telah hidup di Bumi ini selama 21 tahun. Selama itu aku banyak melihat. Aku sangat bersyukur pada Penciptaku karena telah memberikanku mata untuk melihat meskipun aku malah merusaknya dan kini tidak bisa melihat dengan jelas. Dimulai dari mata yang melihat, aku menjadi tahu kalau aku tidak hidup sendiri, kalau aku ternyata berada di atas tanah yang ternyata beratapkan langit, kalau aku ternyata adalah manusia yang punya tangan dan kaki. Dengan melihat (entah kenapa) aku merasa tenang dan aman. Dari situ aku banyak belajar.
 
 Kegemaranku adalah melihat kemudian menarik kesimpulan dari yang kulihat. Secara otomatis kesimpulan-kesimpulan yang aku buat itu tersimpan. Aku sebut itu tersimpan karena di waktu lain aku bisa memanggilnya kembali. Seringkali aku mengingat satu kesimpulan dan mengaitkannya dengan kesimpulan lain. Kini kesimpulan-kesimpulan itu sudah sangat banyak.
 
 Semakin lama aku hidup semakin sulit untuk menarik kesimpulan, karena terlalu banyak variabel yang terlibat. Kalau aku mengambil satu kesimpulan, seringkali di lain waktu berubah karena muncul variabel baru. Lama-lama aku bingung dengan apa yang aku lihat. Meskipun begitu aku tetap senang melihat dan menarik kesimpulan. Lama-lama hal itu membentuk diriku. Semua yang kulihat memaksaku untuk berpikir dan membuatku harus mengambil sikap. Hal itulah yang membuatku ada dan dilihat lagi oleh manusia lain. Dari melihat, aku berpikir dan bertindak.
 
 Selama ini, sudah banyak tindakan yang aku lakukan. Dari situ timbul persepsi bahwa hidup itu soal berpikir dan bertindak. Lama-lama aku menganggap kalau orang yang tidak berpikir dan bertindak adalah mayat. Kemudian aku berusaha “menghidupkan” banyak orang, mengajaknya untuk berpikir dan bertindak layaknya yang aku lakukan. Dalam pelaksanaannya seringkali aku bertikai dengan manusia lain. Aku sangat benci pertikaian. Aku melihat dan mengalami pertikaian itu, kemudian aku berpikir apa penyebabnya beserta solusinya, lalu aku melakukan itu. Itu hal yang aku lakukan setiap kali aku menghadapi pertikaian. Tapi mengapa pertikaian itu tak kunjung usai?
 
 Ternyata masalahnya tidak semudah itu. Kebingungan-kebingungan yang aku alami saat menarik kesimpulan dari yang kulihat, pertikaian-pertikaian yang aku alami, merupakan masalah yang sangat rumit. Aku mulai menyadari ternyata masalah-masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan berpikir dan bertindak. Tapi apa?
 
 Di awal aku menjelaskan bahwa manusia dibagi dua yaitu wanita dan pria. Penggolongan itu tentunya ada dasarnya. Selain dari segi biologis ada juga perbedaan dari segi psikologis. Katanya salah satu perbedaannya adalah bahwa wanita lebih mengutamakan perasaan dari pada logika dan pria sebaliknya. Aku menganggap itu hanya stereotype saja. Buktinya aku lebih mengutamakan logika ketimbang perasaan padahal aku wanita. Aku selalu mengutamakan berpikir dan bertindak, bukan merasa.
 
 Muncul pertanyaan, wanita macam apa aku ini?
 
 Tentunya hal ini memaksaku berpikir. Aku lihat wanita lain, mereka sesuai dengan stereotype itu. Mengapa aku seperti ini? Ada yang miss ternyata. Masalahnya hanya satu, yaitu lupa. Selama aku melihat dunia dan menarik kesimpulan, aku juga menggunakan perasaan tanpa sadar sehingga otakku tidak mengingatnya. Selama aku berpikir dan bertindak, aku juga menggunakan perasaan tanpa sadar sehingga otakku tidak mengingatnya. Justru aku adalah orang yang sangat “berperasaan”. Di setiap tindakan yang aku lakukan ada peran perasaan di sana, tapi aku tidak sadar.
 
 Dan kini aku tahu satu lagi aspek yang perlu dilakukan ketika menghadapi masalah selain berpikir dan bertindak, yaitu merasa. Perasaan ini merupakan hal yang unik, sulit menjelaskannya.Namun dengan dan tanpa perasaan atau unsur hati dalam suatu masalah akan terasa bedanya. Dengan hati dan perasaan kita akan mampu merasakan perasaan orang lain, kita menjadi mampu mendengarkan keluh kesah orang lain, dan akhirnya muncullah yang namanya tindakan yang berdasar kegelisahan hati. Oh ini asal muasal pergerakan toh.
 
 Aku yang dulu, yang melihat, yang menarik kesimpulan, yang berpikir, dan yang bertindak, kini bertambah, yaitu yang merasa. Hati adalah anugrah terbesar yang diberikan Tuhan untuk wanita. Hati dan perasaan lah awal mula dunia ku ini. Hati dan perasaan ini lah yang “menghidupkan” hari-hariku. Aku menyadari ini ketika aku hidup di antara banyak laki-laki, ketika aku masuk ke fakultas dengan mayoritas pria di dalamnya.
 
 Aku adalah wanita, aku dianugrahi hati dan perasaan, dan aku bersyukur akan hal itu. Semoga dengan bermodal penglihatan, pemikiran, tindakan, dan perasaan inilah aku bisa mengubah dunia orang-orang di sekitarku untuk menjadi lebih baik. Aku ingin menjadi magnolia yang melambangkan ketekunan dan cinta, yang menyebarkan aroma yang harum saat mekar, pertanda akan datangnya musim semi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nadia Amalia’s story.