Day 2#: Masa Liburan

Dikutip dari google.com

Mulai sekarang, saya tak langsung menulis inti dari tulisan pada judul. Mencari tau, menerka, dan mengintepretasikan sendiri inti dari tulisan adalah hal yang akan saya dahulukan, karena tentu akan melanggar hak kamu untuk berimajinasi.

Tulisan kali ini terinspirasi dengan musim yang ada di Indonesia. Sama seperti musim yang ada di Indonesia, pelajar juga memiliki 2 musimnya. Pertama adalah musim belajar, dengan segala kerja kerasnya, yang kedua adalah musim liburan, dengan segala (impian) untuk bersantai rianya.

Musim tersebut, dahulu memang tersusun secara rapi, namun semenjak datang pemanasan global, anomali musim dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia. Anomali ini berbentuk musim kemarau yang terlalu panjang, atau musim hujan yang terlalu lama, ataupun ketidakjelasan musim hujan/kemarau.

Musim bagi seorang pelajar memang terbagi menjadi dua. Musim libur dan belajar. Tentu, untuk seorang pelajar yang baik, tak ada yang namanya liburan, karena saat libur-pun seorang pelajar dapat belajar. Namun, beberapa generasi belakangan ini pelajar-pelajar Indonesia yang saya bisa amati terkena dampak pemanasan global. Yang pertama, saat belajar malah liburan, yang kedua saat liburan malah benar-benar meliburkan diri.

Oke, tampaknya agak tidak nyambung analoginya, tapi bukan masalah. Saya tak terlalu tertarik pada bagian pertama. Saya akan mendalamkan tulisan ini pada kasus kedua, Saat liburan malah benar-benar meliburkan diri.

Adalah benar bahwa 1 semester belajar merupakan gunungan tingkat capai, stress, dan sejenisnya. Adalah benar juga, bahwa gunungan itu harus dilepaskan/dialirkan agar jiwa siap menerima gunungan-gunungan baru. Waktu libur memang sangat cocok untuk melepaskan hal tersebut. Namun sering kali hal ini dilakukan secara berlebihan.

Mulai dari baris ini hingga terakhir adalah berdasar pada perilaku yang Saya amati. Entah terjadi pada kamu atau tidak,mohon diresapi sendiri. Mahasiswa diibaratkan sebagai anak.

Konteks berlebihan kali ini jatuh pada hubungan orang tua — anak. Semasa liburan, tentu anak mendambakan hari-hari yang menyenangkan dimana dapat berleha-leha dan bersantai ria. Bagi mahasiswa yang merantau, tentu hal ini merupakan hal yang didambakan. Namun, mari kita lihat dari perspektif orang tua dengan anak yang merantau dalam pendidikannya. Liburan adalah waktu yang sangat mereka dambakan. Pandangan tentang berkumpul, ngobrol, bercengkrama, dan lain-lain adalah hal yang mereka rindukan.

Melihat anak zaman sekarang, kecenderungan mereka dalam komunikasi tidak langsung sangat besar. Hampir dapat dipastikan, tiap anak yang memiliki HP dan internet tak dapat lepas daripadanya. Selain itu, reuni bersama teman-teman juga merupakan hal wajib yang tak dapat ditinggalkan. Alhasil, berkuranglah waktu bercengkrama orangtua dengan anak-anaknya akibat hal ini.

Selanjutnya, orang tua tentunya bukan pengangguran. Tapi seorang yang mempunyai kerja. Akibatnya, tentu waktu yang mereka miliki sangat terbatas. Dengan hadirnya si anak saat liburan, sudah pasti orang tua punya kesempatan untuk meminta bantuan kepada anak-anak selama waktu kerja. Bantuan itu bisa berupa banyak hal, contohnya pekerjaan rumah: menyapu, mengepel, membuat masakan, dan lain-lain.

Hal menarik yang terjadi adalah anak tak mengindahkan permintaan tolong dari orang tua karena sibuk dengan acaranya sendiri. Hasilnya timbul pertengkaran kecil orang tua dengan anak yang diakibatkan kekesalan. Dampak dari pertengkaran itu, tentu rasa hormat anak menurun, anak melakukan hal dengan hati tak ikhlas, serta rasa sedih pada diri orang tua.

Mari berpikir lebih dalam, pendapat berikut tak bermaksud berpihak pada orang tua, waktu bertemu mereka kurang lebih 3 bulan dalam 1 tahun, itupun kalau tak terpotong kegiatan kampus ini itu. Dibanding 9 bulan sisanya, tentu 3 bulan tersebut menjadi waktu yang terbatas dalam diri.

Kesempatan membantu orang tua dalam 3 bulan itu, dibanding kesempatan yang anak punya untuk meminta bantuan dalam 9 bulan sisanya berbanding sangat jauh. Coba diingat-ingat, selama 9 bulan anak dapat dengan bebas meminta bantuan (terutama dari segi finansial) kepada orang tua. Memang benar itu kewajiban orang tua untuk menafkahi, namun terlihat berlebihan apabila terjadi permasalahan seperti yang disebutkan di “3 bulan itu”.

3 bulan, waktu yang pendek bahkan untuk sekedar membantu. Bantuan yang diminta memang menyita waktu, memang tidak bermanfaat, namun dibanding dengan usaha 9 bulan yang mereka berikan, rasanya tak dapat dibandingkan.

Maaf saya akhiri sebelum tulisan ini makin kacau dan makin banyak hal subjektif didalamnya. Tulisan ini memang tak diakhiri dengan patut. Masih banyak hal yang menggangtung, sama seperti karakter dan moralitas anak yang menggantung sekarang.

Apabila kamu telah sampai bacaan ini, silahkan kabari saya dan ceritakan pandangan kamu tentang tulisan ini. KMPN butuh seseorang yang berkarakter seperti intisari dalam tulisan ini.