Day 4#: perburuan oleh-oleh

Gambar dari Google.com

Hanya menunggu waktu sampai liburan benar-benar usai. Liburan kali ini cukup menyenangkan dan meninggalkan pengalaman-pengalaman berkesan dalam keberjalanannya.

Mengikuti orang banyak, tentu liburan usai menandakan waktu untuk kembali kerutinitas harian. Jikalau rutinitas harian mu jauh dari tempat liburanmu dan kamu akan bertemu orang-orang dari berbagai belahan daerah, sudah tentu oleh-oleh adalah barang wajib untuk dibawa (dengan asumsi mengikuti orang banyak). Kali ini, mengikuti orang banyak, saya tak lupa membawakan oleh-oleh untuk seseorang yang benar-benar saya sayangi, mari kita panggil dia dia.

Setiap tahun oleh-oleh ini, saya melakukan semacam survey kecil pada jenis oleh-oleh. Benda yang biasa dicari semacam: pernak-pernik, garmen (baju, kain, dsj.), makanan, wangi-wangian, kerajinan, dan lain sebagainya. Kali ini, saya memutuskan untuk tak membelikan dia salah satu dari benda-benda umum tersebut.

Membeli oleh-oleh untuk orang yang spesial tentu membutuhkan hati yang spesial. Kata spesial sendiri pun berbeda-beda definisinya. Dalam kamus saya dan dia, spesial itu bukan makanan, karena akan habis setelah dimakan. Spesial juga bukan sesuatu yang tak bisa kamu pakai sehari-hari, tak mungkin pakai kaos you-can-see-my-ketek ke kampus. Spesial haruslah yang menarik, tahan lama, berbekas, dan tentunya seksi. Dengan alasan itu, saya memutuskan memberi dia oleh-oleh budaya.

Kesan pertama dari saya saat memutuskan itu adalah “WOW”. Budaya yang dibawa tentu budaya negeri sendiri. Bagi saya, semua orang tentu suka dengan budaya dalam negeri, minimal bersikap netral atau tak membencinya. Ini adalah tugas yang sangat berat dalam pemilihannya. Memilih suatu karya budaya kemudian membungkusnya dengan cara yang tepat agar tak menimbulkan hasil yang mengecewakan. Berdasarkan pertimbangan itu, saya memilih babad dan topeng.

Babad atau puisi ini adalah karya sastra khas daerah yang bertemakan apapun, mulai dari keseharian hingga politik dan agama. Babad biasanya disajikan dalam bahasa ibunya (bukan bahasa indonesia). Naskah ini sendiri ditulis tidak dalam huruf latin, melainkan dalam aksara daerah ataupun aksara kuno.

Jika babad memberi gambaran yang imajinatif, gambaran visual akan disampaikan melalui topeng. Topeng sendiri memvisualkan tokoh-tokoh pada babad. Visualisasi tak hanya dari bentuk wajahnya, dari sana dapat dilihat pula karakter melalui warna-warna yang ditonjolkan lewat topeng tersebut.

Dengan 2 hal itu, saya ingin mengenalkan ke dia keanekaragaman budaya. Namun, tantangan menerjemahkan isi babad untuk memahami maksudnya adalah hadiah tersendiri dan semoga dapat membuat dia lebih tertarik lagi dengan budaya. Terakhir, tentu untuk membuat dia senang :)

Dengan rencana tersebut, pencarian oleh-oleh pun dimulai. Tanpa disangka, ide ini merupakan hal buruk. Bukan karena budayanya, melainkan sudah jarang pengerajin yang menawarkan ini. Kalaupun ada, dihargai sangat mahal. Namun, bukan seorang manusia kalau menyerah sebelum berusaha. Tunggu oleh-olehnya ya. Saya bawakan kamu segudang hal indah dalam oleh-oleh ini.

#Apabila kamu telah sampai dibaris ini, silahkan kabari saya dan ceritakan pandangan kamu tentang tulisan ini. KMPN butuh seseorang yang berkarakter seperti intisari dalam tulisan ini.