Nebeng Mobil Bak
Ada hal-hal yang memang harus dialami untuk bisa dipahami.
Hari Minggu, 3 November 2019, sehari-dua hari selepas acara perlombaan ide solusi pengmas yang kukerjakan selesai, semalam sebelumnya aku benar-benar kelelahan. Aku berasumsi, hari Minggu adalah diklat jalan-jalan sambil bersua dan mengambil foto-foto. Secara konsep sih, begitu, tapi pelaksanaannya seratus delapan puluh derajat. Diklat Minggu itu adalah diklat survival.
Aku datang menyusul dikarenakan kurang enak badan, hadir tepat pukul 9.30 pagi. YANG TELAT POSISI PUSH-UP YA, ayo-ayo, Hilda! pura-pura posisi biar di upload ke grup!
Aku berada dalam satu kelompok dengan Kak Ulya, Agus, Kak Farhan, Zaki dan Paisal. Kami diberikan waktu lima belas menit pertama memberi bekal, tidak lebih dari sepuluh ribu per orang. Siasat kami adalah, kami kumpulkan uangnya menjadi Rp60.000, lalu kami beli barang-barang primer seperti roti besar dan air minum, sisanya kami belikan susu kotak sebanyak tiga buah: untuk dijual saat di jalanan nanti. Kenapa?
Kami ditugaskan bermain pos-to-pos satu Bandung. Di tempat yang dituju, kami akan berkenalan dengan beberapa keluarga DK, eskpeditor-ekspeditor terdahulu. Satu kelompok yang berisikan enam orang, harus bisa menggunakan Rp15.000 untuk transportasi sana-sini.


Perjalanan pertama memiliki clue ini: Taman merekam memori.
Identik sekali dengan videografi, kan? Ah! Taman Film! Kami berjalan kaki dari kampus ITB ke Taman Film, mumpung dekat. Kelompok yang datang pertama kali ke sana adalah kelompok kami, tapi kok.. tidak ada keluarga DK..? Kak Yeriko salah memberikan konfirmasi tempat. Katanya Taman Film adalah tempat yang benar, ternyata.. Taman Foto. Di Gandapura.
Kami sedikit panik, menghabiskan waktu 30 menit mencari keluarga DK di Taman Film menjadikan kelompok kami terlambat untuk pergi ke pos selanjutnya. Kebingungan, ke Gandapura dari ITB harus naik apa? Naik angkot? bisa habis itu Rp12.000 sekali jalan!
Kami berjalan kaki, Dago hingga area Progo. Agus tidak suka jalan kaki, akhirnya ia paling berani meminta angkutan ke mobil bak yang sedang parkir di kanan jalan Progo, Aguuuus! Kapan lagi ya, nebeng mobil bak di Bandung?

Di Taman Foto, kami bertemu Kak Ainun, Kak Farhan, dan Kak X (aku lupa, nanti kuedit ya), berbicara tentang pentingnya menangkap momen. Jadi begini, aku sedikit bingung sebenarnya dengan tips and trick dokumentasi, biasanya foto-foto yang bagus dan bercerita dihasilkan karena perencanaan dan waktu yang baik, namun di lapangan yang dinamis, bagaimana ceritanya?
Aku menangkap foto-foto ini:





Sebenarnya tidak ada yang spesial-spesial amat, karena aku lagi belajar street photography, dan dinamisnya street photography adalah hal-hal ditangkap di detik bersamaan foto itu terjadi.

dan, ada pula perkataan tentang ini,
“There is a fine ethical line between invading a person’s privacy and capturing their true image”
Menurut National Press Photographers Association, terdapat beberapa guidelines yang diperhatikan dari street photography. Ia harus menyajikan konteks dalam gambar, dan memberikan pertimbangan khusus untuk hal-hal yang rentan, tidak misleading keadaan yang sebenarnya terjadi serta tidak mereka-reka kejadian.
Namun Kak Farhan mengingatkan, ada baiknya mencari cerita, izin dan identitas di setiap frame foto yang terjadi, dan menikmati chaosnya sebuah perjalanan.
Ternyata benar, tidak ada ruginya mendengarkan dan belajar. Saat kami pergi ke pos selanjutnya, yaitu Taman Lansia, kami istirahat sebentar di rumah makan iga bakar. Sembari yang lain sembahyang, aku berjalan-jalan keluar dan bertanya jurusan angkot dengan Pak Satpam dan Pak Didin. Aku tertarik sekali dengan Pak Didin, kegiatan DK ini sudah sering kali memaksakan aku untuk menggali lebih dalam, dan lama-lama jadi punya insting sendiri untuk bertanya dan mengenal.


Pak Didin adalah pengrajin mainan anak dari dus bekas asli Tasikmalaya, beliau telah merantau ke Bandung saat usianya 12 tahun. Beliau mencoba pekerjaan sana-sini dan akhirnya memiliki tempat kediaman di Lembang, namun du hari tuanya, beliau memilih jualan mainan anak dan terkadang tidak pulang, bermalam di rumah makan iga bakar ini.
Yang lucu adalah, beliau menyebutkan nama seseorang yang membuatku tertarik, “Iya neng, pernah ada anak ITB mengunjungi bapak juga, tahun 2009, namanya.. Sano? Ini, kartu namanya,” beliau tunjukkan padaku.
Kak Sano adalah kakak tingkatku di Teknik Lingkungan, dia adalah orang yang hebat dan banyak ide-ide kreatif muncul di benaknya, seperti greenation dan waste for change. Ternyata mereka berdua sempat projek bersama, mengenalkan kreativitas dari dus ke anak-anak di CFD dan beberapa kesempatan lainnya.
Ternyata dari sini aku belajar, tidak ada ide yang terlalu kecil, ide yang sederhana bisa jadi membekas bagi beberapa orang dan memberinya harapan.
Terima kasih reminder untuk selalu menggali, Kak Farhan, Kak Ainun!





Kak Ulya harus segera pergi ke ITB karena ada praktikum, akhirnya, kami berlima melanjutkan perjalanan.
Di pos kedua, kamu bertemu Kak Abdan dan Kak Caca, mereka berdua menceritakan kondisi 3T sesungguhnya: masih ada listrik, hati-hati kriminalitas di setiap daerah, angkutan umum bisa jadi tidak sesuai jadwal, dan hal-hal teknis lainnya.
Banyak hal-hal mencengangkan saat kita melakukan ekspedisi, yang pasti adalah mental diuji. Kondisi mental saat fisik kelelahan sangat berdampak terhadap performa kita dalam sebuah tim, tidak salah juga, sih, untuk merasa kelelahan, itulah fungsinya kita pergi bersama-sama, agar ada penyemangat, pelindung, teman bercerita dan pastinya pelengkap segala sesuatunya.
Setelah itu, kami di telepon Kak Yeriko: Pulang ya, HUJAN.
Hehehe, akhirnya kami pulang ke kampus berbasah-bahasan.






