Personal.. bRanDinG?
Sejujurnya agak kaget waktu tahu di kelas pendidikan DK AMI 2019 ada materi personal branding, karena dari pengalamanku, sih, biasanya kelas personal branding itu untuk rangkaian kegiatan-kegiatan inkubasi individu-individu yang tertarik launch bisnis atau mempercepat start-up. What I’m trying to say is.. most of personal branding technique leads us to bettering and wrapping the good personalities we have to catch a business opportunity, and eventually end up with elevator pitch.
Ilmu-ilmu seperti itu sangat seru dikupas secara teoritis, tapi diaplikasikannya? perlu bijak-bijak.
Secara teoritis, branding adalah kegiatan membentuk identitas akan suatu hal yang menampilkan ciri khas dan menampilkan perbedaan-perbedaan hal tersebut. Di awal kelas aku bertanya-tanya, apakah tujuan branding se-sederhana agar mudah dikenal? ternyata tidak.
Berdasarkan platform Mojo, branding has the purpose of knowing and consistently living from a true identity, from a real story, so that executive leadership, sales, marketing, product, support, operations, and corporate culture all align and mature in a compelling manner that is meaningful to anyone.
Dari dulu, aku adalah orang yang meragukan branding. Entahlah, manusia ‘kan ada naik-turunnya, bukankah menjadi sejatinya diri adalah branding yang paling baik? Aku sempat skeptis bahwa branding itu ekivalen dengan membatasi diri untuk berbuat salah, tapi ternyata tidak.
Ka Umar Al-Faruqi menjelaskan bahwa sebelum kita branding diri kita sendiri, ada tiga tahapan umum:
Discover → Build → Communicate,
Discover dan build adalah dua tahap yang paling esensial, kita harus mampu mencari-cari dan menemukan diri kita sendiri, sebenarnya, saya ini orang yang seperti apa? menyukai apa? memiliki kecenderungan membawakan hal-hal seperti apa? menolak apa? tidak suka terhadap apa? dan seketika kita menemukan hal-hal tersebut, perbanyaklah waktu uji cobanya: lakukan hal-hal yang kita jawab tadi dengan sekonsisten dan sekomitmen mungkin, lalu lihat hasilnya, apakah jawaban-jawaban yang kita berikan untuk diri kita sendiri sebetul-betulnya keadaan tentang diri kita?
Lalu, setelah semuanya rampung, komunikasikanlah.
Satu perkataan yang menohok untukku adalah ini:
If you’re not a brand, you’re a commodity.
Lah, emang apa salahnya menjadi komoditas? (Kemudian aku melihatnya seperti ini, mungkin, harusnya semua orang mampu hidup di atas jati dirinya, memancarkan brand atas dirinya dengan sebenar-benarnya, dan memang harusnya tidak ada manusia yang menjadi komoditas. Tapi dalam ketidakidealan ini, wajar saja jika branding menjadi salah satu ‘pelajaran’, mungkin memang ada orang-orang yang lalai dalam memerhatikan jati dirinya, atau memang tidak berkesempatan, kemudian dijadikan komoditas, maka itu, ada-ada saja rasa kompetitif dari branding ini).
Meninjau diri dapat dilakukan dengan memerhatikan kelima hal:
- Traits: meninjau karakter individu
- Works: meninjau apa yang sedang dilakukan dan dikembangkan individu tersebut
- Value: nilai yang diemban oleh individu tersebut
- Skills: keahlian-keahlian yang dimiliki individu
- Goals: tujuan individu
—
Branding yang baik memiliki empat karakteristik berikut:
- Otentik: brand sangat spesifik, memiliki fokus pada satu bidang
- Relevan: brand diterima oleh norma masyarakat
- Konsisten: brand melakukan kegiatan yang terus-menerus dan mendukung citranya
- Komitmen: melakukan branding sesuai dengan apa yang dijanjikannya, peninjauan secara kualitatif.
—
Aku yakin, seperti kata Kak Martha, teorinya dapat ditemukan di laman Google, kini aku ingin bercerita tentang personal branding dalam kegiatan DK AMI.
I’ve never been a fan of a personal brand, I actually hated it. I know, hate is a strong words. But have you ever thought of a negative branding that’s made by the society of you? the wrong portrayal the society stamps onto you and it rides the enormous waves, reaching out to more poeple to think badly of you? I have seen experiences of that condition happening. And I couldn’t think of anything nice about it.
but the condition would be this: that was years ago, different circumstances, different people. In this period of learning, in DK AMI, the kids that you will meet in most remote area of Indonesia needs to see hope, reasons on why, getting to universities open up more doors for opportunity, they need to see the embodied phrases of “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world,” because maybe, for some of them it actually is.
Aku mulai mempertanyakan lagi, aku akan membawa semangat apa ya, nanti, kalau terpilih. Tapi kalau tidak pun, sebenarnya aku punya semangat apa sih, kuliah ini?
Aku akan bercerita, pertama kali aku masuk kampus ITB, aku memiliki kehawatiran yang luar biasa, aku mau Fakultas Kedokteran, berjas putih masih PPA AMP, ITB berisikan orang-orang super, high-achievers, biaya kuliah dan bukunya mahal, anak-anaknya individualis. Tapi aku juga akan bercerita tentang perjumpaanku dengan Pak Wono Setiabudhi, dosen senior kalkulus yang aku takuti setengah mati! aku pernah menahan pipis dua jam pelajaran karena ciri khasnya adalah memanggil murid yang ke toilet menjawab pertanyaan (dan aku, mana bisa kalkulus. Bisa sih, tapi ya terseok-seok).
Aku bertemu dengannya dan selalu duduk di bangku yang sama selama dua semester, baris ketiga sayap kanan (karena area itu aman, tidak akan dipanggil ke depan), hingga saat UTS 1, dari nilai 40 aku hanya bisa kepala 20-an, 20 kecil. UTS 2 pun sama, semester dua ini aku tiba-tiba saja diperlihatkan sisi baiknya Pak Wono, Ya Tuhan, dia baik sekali!
Dia selalu percaya bahwa tidak ada anak yang tidak bisa, yang ada hanyalah yang malas dan takut mencoba. Dia selalu mengizinkan kami bertanya sebodoh apapun sebuah pertanyaan, selalu menunggu selama apapun waktu yang diperlukan untuk muridnya menjawab pertanyaan di depan, dia selalu bilang,
‘Ruangan ini perlu diperluas untuk pertanyaan! kenapa begini pak? kenapa limit itu begini pak? kenapa persamaan diferensial itu harus begitu pak? tanyakan! tanyakan!’
Aku akan bilang pada adik-adik di sana, bahwa akan ada setidaknya sepuluh orang yang mendukung pertanyaan-pertanyaanmu dan tidak ada ruang kelas yang terlalu kecil. Bahwa setiap tanya harus ada jawabnya, ciri khas diklat-diklat kampus Gajah itu jauh lebih bermakna di ruang kelas!

Akhirnya aku pernah disuruh maju, dan aku sudah mau mati minta ampun. Ternyata aku bisa (dibantu Pak Wono dan Zaldy), pun nilai UTS keduaku ada peningkatan!
Aku juga akan bercerita tentang pertemuanku dengan orang-orang luar biasa hebat di kampus ini, ada mereka yang aktif kegiatan akademik dan non akademik tapi keduanya optimal, ada yang sangat mengerti seluk-beluk masalah sosial dan kemasyarakatan, ada yang sangat-sangat perhatian dan menjadi pendengar yang baik, ada teman-teman yang ketika kamu letih, pasti berbisik: you’re a blessing. Akan hadir teman-teman yang senang melihat hadirmu di kampus ini.
Ah, cerita apa lagi ya.. tunggu ya, aku sulam satu-satu dulu, hehehe.







Ternyata personal branding tidak semenyeramkan itu, yang seram adalah mencari keberanian diri: sejauh apa kita mau belajar dan konsisten, kalau salah kembali pada komitmen. Kalau komitmennya salah, menerima kritik dan masukan. Dan iterasi sampai tua.
