Menjadi Turun Tangan

Bismillahirrahmanirrahim. Saya awali tulisan ini dengan kalimat basmalah karena saya meyakini sepenuhnya bahwa apa yang akan saya tulis sekarang adalah bentuk kasih sayang Allah kepada saya sebagai hambanya.

Ini akan menjadi tulisan pertama saya yang dipublikasikan setelah sangat lama saya tidak mempublikasikan tulisan saya terutama melalui media sosial. Saya pikir saya akan mulai lagi menulis untuk sama-sama saling menginspirasi baik itu melalui tulisan saya maupun melalui tulisan siapapun yang diikuti dengan diskusi yang produktif.

Hari ini adalah hari yang baru lagi buat saya secara pribadi. Tepat kemarin, salah satu hal besar yang sangat tidak saya duga adalah teman-teman saya di Turun Tangan Bandung memberikan kepercayaan mereka kepada saya untuk melanjutkan estafeta kepemimpinan, setelah Mas Primawan Satrio tidak melanjutkan jabatannya sebagai koordinator umum.

Saya yang jelas tingkat leadership dan social responsibility-nya di bawah kapasitas Mas Prima, jadi sungkan dan sedikit bertanya, “Apakah saya benar-benar layak berada di posisi ini?” Yang mana saya hanya orang baru yang tidak mengalami penggalan sejarah bagaimana komunitas ini terbentuk dan juga berkembang sampai sejauh ini.

Namun sekali lagi, satu hal yang membuat saya berani mengambil resiko ini adalah kepercayaan teman-teman terbaik saya di dewan koordinator program Turun Tangan Bandung; ada Via, Dany, Ghivaris, dan tentunya Mas Prima. Saya yang telah meletakkan ego saya untuk menolak kepercayaan ini di tempat yang sangat jauh, akan berusaha memberikan yang terbaik sejauh apa yang bisa saya lakukan. Semuanya demi kepercayaan yang teman-teman saya berikan.


Turun Tangan Bandung di Mata Saya

Perspektif saya mengenai komunitas ini adalah pandangan subjektif yang mungkin sangat jauh dari kenyataannya. Tapi apa yang saya dapatkan dan rasakan selama kurang lebih satu setengah tahun saya beraktivitas di sini jelas adalah sebuah pengalaman berharga yang tidak mungkin tidak bisa saya yakini ini akan bermanfaat di masa yang datang.

Ide brilian mengenai Turun Tangan Bandung lahir dari Mas Prima. Inkubasi Ide dan Gerakan. Ini jauh lebih dari yang saya bayangkan ketika sebelum saya masuk menjadi bagian di dalam komunitas ini. Ide ini sangat brilian, terutama dari sudut pandang bahwa “tidak semua ide ada fasilitas dan ruang geraknya.”

Turun Tangan Bandung memang tidak menjanjikan apa-apa. Tidak ada working space mewah. Tidak ada dana menunjang. Tidak ada fasilitas luar biasa yang memberikan kenyamanan dalam beraktivitas. Namun saya yakin, semangat kolaborasi dan semangat untuk mencapai cita-cita bersama ada di sini.

Semua orang yang ada di sini, bersama-sama, mencurahkan ide dan jiwa mereka demi mengatasi keresahan yang mereka miliki selama ini terhadap segala masalah sosial yang muncul di negeri kita tercinta. Dua hal ini, jika dikumpulkan dalam satu wadah yang sama, seakan menjadi raksasa yang terus membimbing dan mengarahkan kita semua pada tujuan yang dicita-citakan. “Individually, we are one drop. Together we are an ocean,” said Ryunosuke Satoro.

Inkubasi ide dan gerakan. Ide ini dapat terdefinisi dengan terbentuknya beberapa gerakan yang lahir bersama Turun Tangan Bandung. Ada Selasar Imaji; sebuah program community development yang berfokus pada peningkatan literasi. Program ini, ibaratnya, sudah bisa berdiri sendiri meskipun keluar dari payung Turun Tangan Bandung. Sekarang di komunitas ini, Selasar Imaji sudah selayaknya badan semi otonom yang terus bergerak dan berkembang seperti anak ayam yang tumbuh besar setelah menetas dari telur yang dierami induknya.

Di bagian lain, ada Eyes (Explore Your Inner Soul); program yang mendedikasikan dirinya pada kesehatan mental; memfasilitasi orang-orang yang mengalami masalah dalam hidupnya untuk hidup lebih baik dengan dikumpulkan bersama orang yang memiliki permasalahan sejenis dan saling bertukar semangat dan inspirasi.

Ada pula Swara DPR; program pendidikan politik, yang memfasilitasi masyarakat pemilih untuk bertukar aspirasi dengan wakil rakyat di daerah pemilihannya pada masa reses. Satu bagian penting kehidupan politik yang seharusnya diinisiasi oleh wakil rakyat itu sendiri sebagai responsibility atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Di samping ketiga program ini, ada juga beberapa gerakan yang saat ini sedang berjalan, sudah berjalan dan juga akan berjalan di waktu mendatang, yaitu: Anti Sexual Harrasment Campaign, Rebranding UKM Movement, Jabar Sae dan Kelas Milenial.

Semua gerakan, yang telah saya sebutkan, berprogress dan berkembang.

Inilah ide brilian yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa jika ide difasilitasi, bagaimana pun fasilitas yang tersedia, akan menjadi gerakan. Tentunya hal ini tidak hanya bermanfaat bagi penggagas ide, tapi juga bagi society yang terlibat ke dalam program tersebut.

Selasar Imaji melibatkan warga rusunawa Cingised. Eyes melibatkan orang-orang dengan permasalahan mental. Swara DPR melibatkan masyarakat pemilih. Begitu pun program-program yang sudah saya sebutkan, tentunya melibatkan society yang berhubungan dengannya. Bukankah ini cita-cita yang kita ingin capai bersama, “Menjadi Manfaat bagi Seluruh Alam”?

Sepertinya, tulisan ini sudah cukup panjang. Terima kasih bagi yang sempat membaca tulisan ini sampai di bagian paragraf ini. Juga saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Prima atas satu periode sibuk yang luar biasa. Saya yang hanya bisa membagikan hal sederhana ini, hanya berharap kita semua bisa berkolaborasi untuk menjadi nilai kebaikan bagi negara kita tercinta Indonesia. Pejuang, bukan? Hadapi!

Rabu, 7 November 2018

17.42