Senja kesekian kali

Kau bilang supaya melakukan sesuatu sebelum malam tiba, 
mengenalinya adalah mencintainya,
menatap garis langit dari bawah sini, sepasang mata kini coba menyamar seperti awan, 
dan sekilas itu lebih dari cukup, 
matahari turun merubah rona hingga jingga memuai direlung langit, 
lembayung menyapa untuk hanya sekedar terlihat dan bertanya, “kau merindukanku ?”, untuk kesekian kalinya sekilas itu lebih dari cukup, 
perlahan bulan menyekanya, 
menabur kilauan dari kejauhan, 
seperti manik dari padatnya kristal kejap dan berkedip, 
mata yang tadinya menyamar sontak buta akan jumlah tapi tidak dengan warna,
perduli apa aku dengan algoritma?!
terka saja!. kagum bersemi kini menerka, 
menyusup angka pada kata kedalam untai agar terurai, 
kali ini kau memanggilnya mimpi. 
begitulah, 
indah berlalu berganti indah, 
indah, 
seperti musim semi yang kembali dengan bunga, 
jadi tenang saja, 
karena senja yang dipuja akan berganti lebih mewah, 
dengan hotel 500 milyar bintang yang sedia setia menanti lahirnya aurora, 
semoga.. . .
.

Like what you read? Give Amelia Iskandar Usman a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.