Sebut Saja Si Gadis Bungsu
Segelintir gagasan dari ketidaksengajaan tangan dua sahabat dalam menorehkan tulisan sederhana di halaman akun media sosial
Senja…
sampaikan pada si gadis bungsu bahwa ia akan baik-baik saja selama diperjalanan. Hangatkan ia dengan cahayamu dan bantu ia mengkobarkan semangatnya. Titip dia, senja. Pastikan ia selalu ada digenggamanmu — upe
Gadis bungsu…
Senja menitip pesan dan berjanji bahwa sinar pijar oranyenya kan selalu hangatkan harimu namun ia akan hilang sewaktu waktu. bersiaplah. senja tak selalu cerah kadang ia muram, redup dan sendu. gumamannya ia sampaikan lewat rintik hujan, awan hitam dan semilir angin.
Si bungsu menerka nerka apa sebab senja yang hangat riang cenderung sendu akhir akhir ini.Tampaknya sudah masuk waktu pergantian musim. Gerombolan awan menggumpal berbisik pada sang gadis, hei tak selamanya senja hadir mengahangatkanmu kau tak perlu sekhawatir itu akan kehilangan hangatnya, akan selalu ada cahaya cahaya lain yang kan mengisi enerji direlung jiwamu selama kau percaya semesta hadir bahu membahu menolongmu dan selama kau tak larut dalam elegi.
Siapkanlah payungmu, berteduhlah, kala waktu senja urung menyapamu dan deras hujan mulai melunturkan semangatmu melanjutkan perjalanan tanpa ujung. Hagia di ufuk timur lambat laun kan kau genggam gadis bungsu, jaga bara semangatmu, terbentur menggigil tersesat dalam gelap merupakan amunisi tuk kau bangkit lagi, dan ingat ingatlah alasan yang kau sampaikan pada semesta sebelum memulai perjalanan di awal waktu. semua akan baik-baik saja — Oasisdaze
Duhai senja..
Si gadis bungsu percaya bahwa cahaya oranye adalah sumber kekuatan disaat ia mulai letih menjelajahi setiap sudut perjalanan.
Kau benar senja, cahaya lain akan menggantinya. Tapi, tak sehangat sinarmu.
Sempat si gadis bungsu kehilangan binar yang kau pijarkan, ia tersesat dalam kekelaman dan tak tau arah yang dituju. Dia memilih untuk berhenti sekejap, menutup mata dan kemudian mengadahkan tangannya seraya memohon kepada Sang Pelukis Langit untuk mengizinkan lembayung senja kembali menghiasi hamparan langit.
Kau tahu senja, pinta si gandis bungsu tak kunjung di kabulkan oleh-NYA. Perasaan harap-harap cemas yang menghantui dirinya dikala itu. Dia tersentak dalam kegelapan, mengharapkan segemercik cahaya bulan dan bintang untuk menemaninya.
Si gadis bungsu salah kaprah, pintanya tetap dikabulkan oleh Sang Pelukis Langit namun lewat cara yang berbeda. Wahai senja, maafkan si gadis bungsu yang resah akan kekuatan Sang Pelukis.
Si gadis bungsu, tak ingin lagi memaksakanmu untuk selalu berpijar setiap waktu. Ia terlalu tamak akan kehadiranmu. Lambat laun, gadis bungsu hanya berserah kepada Sang Pelukis dengan membiarkannya bekerja tanpa harus mengatur dan memaksaNYA berkreasi. Ia percaya bahwa ada masanya cahaya pelangi datang menghiasi warna oranyemu. Meskipun begitu, kau tetaplah senja yang tentram direlung si gadis bungsu. Tetaplah menjadi sahabatnya, senja
— Upe
Tertanda,
Si gadis bungsu.
