Sisa Kemarin
Ia menunggu di dekat parkir motor. “Lama sekali kamu mengambil kunci.” ucapnya. “Sabar, mengambil kunci tak membuat kamu menjadi tiba-tiba beruban dan tua kan?”. Ia terkekeh. Kami melangkah ke satu motor dibawah pohon.
Kota Bandung dan kemacetan di malam minggu tak membuatku menjadi sebal. Justru ia menjadi semacam obat bagiku dari rasa suntuk duduk di depan laptop mengutak-atik file Excel yang warna-warni cell-nya lebih menarik dari konten di dalamnya. Bau knalpot dan cuit klakson menjadi harmoni aneh yang menenangkan.
“Masih suka menulis?” tanyaku. “Tidak terlalu. Sekarang aku sedang suka membaca tulisan orang-orang yang menceritakan suatu alternative line story dari cerita aslinya. Hal itu menurutku sangat keren dan gila, aku suka ceritanya, aneh namun membuatku berpikir keren juga kalau itu benar-benar menjadi cerita aslinya ha ha”, jawabnya.
Aku tertawa. Keren juga yang mampu menulis cerita seperti itu. Kreatifitas diri yang bercampur dengan rasa penasaran yang tidak tertahan untuk mengubah cerita asli mampu melahirkan sebuah alternative line story yang menarik bagi pembaca.
Dan obrolan itu bersambung kemana-mana, hingga roda depan motor ini sampai di depan gerbang rumahnya. “Terima kasih ya.” katanya. Aku mengangguk dan pamit. “Selamat malam.” ujarku sembari memutar balik arah motorku. “Maaf ya tadi.”
Hembusan angin malam menemani diriku yang dibabat dingin. Aku mulai berpikir, sepertinya aku terlalu mengabaikan banyak hal hanya untuk suatu hal. Berdialog santai, menulis, mengamati apa yang bisa kuamati, dan berbagai hal lainnya. Bukannya aku menyesal, namun tak seharusnya ku begitu.

Lampu di sepanjang Dago menjadi teman lucu yang menerangi ke-tidakinginan-ku untuk segera kembali berhadapan dengan karpet tidur yang melenakan. Sepertinya aku mulai bisa menghargai momen dan pemandangan yang ada di sepanjang jalan yang kulewati, yang dimana sebelumnya seringkali tak kuanggap ada.
Hingga akhirnya belokan itu menjadi akhir perjalanan singkat malam ini. Dan salam dari mesin itu kembali menyapaku “Selamat datang. Silahkan tekan tombol tiket di depan anda.”
Sebuah tulisan mengada-ada di sebuah warung di jalan Dipatiukur.
Tokoh dan cerita dibuat mengada-ada hanya untuk kepentingan publish di medium.
A’lam Hasnan Habib
15415091
