Review Ala Kadarnya: Sebelum Iblis Menjemput

No major spoilers. But I may give out some details here and there. Jikalau tidak suka spoilers at any cost, sila mampir ke tulisan gue yang lain. Nanti kalau sudah selesai nonton, boleh balik lagi kemari yaa…

There are reasons why I should immediately write my review after watching the movie, apalagi kalau film horror macam gini. Utamanya karena kita (my husband and I, that is) emang cemen jadi sungguh males kalau harus nonton 2 kali (just in case ada detil yang kelupaan). Tapi berhubung lagi banyak yang harus dikerjain (salah satu diantaranya adalah playdate anak-anak, so help me God), I just gotten the chance to jotted down what I have in mind about this movie, semoga nggak ada yang kelewat.

Hiy. (source: Duniaku.net)

Lesmana (Ray Sahetapi) akhirnya terbujuk oleh sisi gelap dari dirinya untuk menggadaikan jiwanya (dan anaknya) pada iblis untuk menjadi kaya. Sosok wanita misterius berbaju putih, yang disebut sebagai “selir iblis” melakukan ritual yang membantu Lesmana mewujudkan keinginannya. Setelah kaya, Lesmana meninggalkan istri pertama (Kinaryosih) dan anak perempuannya, Alfie (Chelsea Islan) untuk menikah lagi dengan Laksmi (Karina Suwandi) yang sudah punya dua anak dari pernikahan sebelumnya, Ruben (Samo Rafael) dan Maya (Pevita Pearce). Dari pernikahan keduanya ini, lahir anak perempuan bernama Nara (Hadijah). Drama bergulir dari premis diatas. Ada luka yang tidak pernah sembuh dan ketika Lesmana akhirnya sakit parah, pintu masa lalu (literally and figuratively) dipaksa untuk dibuka dan menyakiti semuanya.

Some people questioned my judgement when I said this movie is one of the best Indonesian movies I’ve ever watched so far (posted on IG story dan nggak biasanya nerima DM yang cukup banyak dari mereka sangsi dengan judgment gue, more than ever lol). Ini bisa dipahami: mengingat judulnya nggak berbeda jauh sama film-film bergenre horror Indonesia yang kebanyakan hanya mengandalkan jump-scare yang diobral murah, cewek seksi, and basically watching the main leads making stupid decisions throughout the movie. Belum lagi beberapa yang jalan ceritanya incoherent, atau bahkan dibikin asal-asalan banget (sorry, tapi ini fakta) hanya demi mengeruk duit penonton Indonesia yang emang paling mure kalau dikasih genre horror.

Tapi jangan sedih, film debutan Abimana Aryasatya (idola gue jaman SMP heu) dengan role-nya sebagai co-producer ini nggak seperti stereotype film horror Indonesia yang dibayangin sama kebanyakan orang. Ada beberapa yang nanya: serem mana sama Pengabdi Setan? Well, gue bisa jawab keduanya nggak bisa dibandingkan. Film ini disutradarai oleh Timo Tjahjanto, yang bersama Kimo Stamboel (known as The Mo Brothers) dikenal sebagai filmmaker yang sukses dengan Rumah Dara di 2010, film bergenre Gore / Slasher yang jarang ditemui di layar bioskop Indonesia. Jadi sudah kebayang kan, tone-nya akan beda dengan film besutan Joko Anwar yang disebutin diatas.

Masih ingat dengan film ini?

Film ini bukan buat kalian yang faint-hearted. Kalau beberapa film horror “cuma” berjalan hanya dengan mengandalkan jump scare yang relentless tapi teu puguh, film ini konsisten menyajikan suasana mencekam dari awal sampai akhir, dan semua ada maknanya. Ada beberapa penonton yang saya lihat ngerungkel nggak karuan di kursi karena apparently nutup mata sama kuping not good enough untuk menutupi rasa takutnya. Bukan hanya sosok setan yang memang nyeremin, tapi juga banyak adegan penuh darah yang sangat berani ditonjolkan dan sangat jarang ditemui di film horror Indonesia sekarang ini.

#BAIQUE (source: IMDB)

Film ini nggak malu-malu menunjukkan sisi gore dari sebuah film horror. Jadi buat kamu yang nggak nyaman ngeliat Chelsea Islan sama Pevita Pearce bermandikan darah, atau ngeliat kuku Karina Suwandi ngeletek pelan-pelan sampai copot, gue saranin jangan nonton film ini (resiko tanggung sendiri). Setannya nggak melempem. Kalau dia nggak berhasil narik kaki salah satu karakter di film ini dari kolong tempat tidur, dia nggak lantas nyerah, kembali ke dalam lemari dan menunggu kesempatan berikutnya. Setannya disitu. Setannya persistent.

Konsistensi (dan gue rasa bisa dibilang signature) dari The Mo Brothers jelas terlihat dari suspense yang dibikin SEPANJANG film dan tone yang dim dan realis. Adegan sadis dengan special effects terlihat sangat real. Jujur gue sangat nggak suka membandingkan, tapi tone yang gelap dan merah, serta sound effect yang kadang memekakkan telinga (in a good way), mirip dengan style dari James Wan di Insidious franchise. Gue nggak bilang Timo ngikutin James ya, karena definitely signature Timo terlihat jelas disini. Timo nggak hanya berhasil dalam membangun cerita, yang merupakan esensi dari film ini, para pemeran juga bisa diarahkan dengan maksimal, termasuk Pevita Pearce yang dibeberapa film yang dia bintangi sebelumnya (jujur ini pendapat pribadi) terkadang kaku dalam menuturkan dialog.

source: id.bookmyshow.com

Di film ini Pev (maapin, jadi sok akrab) berhasil menjadi sosok yang punya kedalaman karakter dan menjadi salah satu key factors yang membuat film ini sukses. Salah satu adegan terbaik di film ini menurut gue adalah saat Pev(konsisten sok akrab) cold-bloodedly hacked the sh*t out of Lala’s body memakai martil dengan muka datar. Penonton disebelah gue sampai bilang, “gue nggak mau… nggak mau…” yhaaa… kan nggak ada yang maksa mbak untuk nonton juga *peperin ingus*. Kalau biasanya kita dikasih waktu untuk merasa lega sejenak, di film ini suspense selalu ada, bahkan dari awal film.

She did great (source: id.bookmyshow.com)

Gue suka banget fakta bahwa film ini menghargai intelejensia penontonnya. Kita sebagai penonton harus memperhatikan detail dari awal sampai akhir. Semua clue yang dilempar ada maknanya, dan film ini juga bukan film yang malas, yang hanya bersandar sama flashback untuk mempermudah jalan cerita. Film ini punya cerita yang bagus. Apresiasi tinggi buat Timo dan juga Chelsea Islan (and all the casts and crews) yang berhasil deliver a neatly tailored horror movie sehingga kita bisa memaafkan sedikit adegan yang tidak masuk akal, terutama diakhir film.

I rate it: 8/10