A. Latif Dt. Bandaro Sati

Abdul Latif Datuok Bandaro Sati merupakan salah satu tokoh adat dan pejuang di Kampar. Ia lahir di Langgini, Bangkinang pada tahun 1901. Ayahnya bernama Ahmad, petani dari Tulungagung, dan ibunya bernama Dani dari suku Mandahiling di nagari Bangkinang.

Pendidikan awal ia peroleh di sekolah Governemen di Bangkinang. Setelah setahun menganggur, ia merantau ke Batavia dan menuntut ilmu di sekolah pertukangan.

Setelah menyelesaikan tarbiah di Betawi, ia pulang ke tanah kelahirannya. Ia dilewakan gelar Datuok Mojolelo dan menyandang jabatan penghulu selama 4 tahun. Setelah Taratib Dt. Bandaro Sati wafat, Abdul Latif menggantikan kedudukannya sebagai pucuk adat kenegerian Bangkinang.

A. Latif Dt. Bandaro Sati bekerja sebagai pembantu juru tulis di kantor kontroler berkat bantuan ayahnya selama 2 tahun. Ia kudian diangkat sebagai juru tulis kontroler selama 2 tahun jua, lalu diangkat menjadi juru tulis tetap. Sebelum diangkat menjadi wedana, ia memiliki masalah dengan demang penarik tenaga kerja rodi yang bertindak zalim. Perlawanan Dt. Bandaro Sati dilaporkan kepada Belanda. Akibatnya, waktu pengangkatannya diperlama.

Ia pernah menjadi wedana di 3 onderdistrik di keresidenan Sumatra’s Westkust: Batu Bersurat, Suliki, dan Painan. Di Suliki, ia berurusan dengan polisi Belanda ihwal izin senjata. Pada tahun 1938, ia menjadi anggota Minangkabau Raad (Dewan Minangkabau) mewakili onderafdeeling Bangkinang. Pada zaman pendudukan Jepang, ia terlibat dalam pembunuhan beberapa askar Jepang di Bangkinang.

Saat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia melakukan gerilya perpindahan pusat penadbiran di Sumatra, A. Latif Dt. Bandaro Sati menyambut kedatangan mereka di Surau Ubudiyah, Bangkinang pada tahun 1949. Pada tahun 1960, ia menjadi ketua PNI Kampar.

A. Latif Dt. Bandaro Sati, bersama H.M. Amin Dt. Majolelo dan A. Malik Yahya, berperan dalam pengusulan nama Kabupaten Kampar. Nama ini dimufakati oleh panitia desentralisasi kewedanan Bangkinang pada tahun 1962.

Ia meridakan sedikit tanah ulayatnya di Bangkinang untuk dibangun gedung pemerintahan. Ia menginisiasi beberapa pembangunan, seperti SMP, pasar, dan gedung mesin listrik.

Dt. Bandaro Sati wafat pada tahun 1984 dan dikuburkan di Surau Ubudiyah. Ia meninggalkan 4 istri dan 12 anak. Pada tahun 2016, ia diberi penghargaan kepahlawanan oleh Pemerintah Provinsi Riau.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.