Hai, anak ayam!
Percayalah, jarak hanya sebuah nama pohon. Rindu hanya sebatas typo-nya tulisan randu. Garis waktu memaksa kita bergerak, menuntut kita beradaptasi, menuntun kita menerima hal baru. Termasuk aku, yang bertemu dirimu.
Dengan segala kekurangan diri, aku yang tidak tahu diri ingin merepotkan. meminta tolong sekali lagi. menitipkan hati pada sebangsa-mu, lagi.
Hadirmu menggenapkan, tingkahmu yang kekanakan menjadi arena pembuktian. Bahwa aku layak diperjuangkan. Bukan pamrih yang kucari, berjuang lalu berharap kembali. Tapi tingkah wajar, bagi sepasang manusia yang berlatih berjanji.
Tidak terasa hampir satu kalender terjebak dalam kondisi. Pembelajaran atas kesalahan semakin terakumulasi. Semoga menjadi bekal menghadapi hari yang tidak bisa diprediksi.
Modalku hanya pengalaman dan kesalahan. Kemampuanku hanya merindu tak kenal waktu. Usahaku hanya sebatas mengejar kereta dan kendaraan empat roda, untuk membawaku ke hadapanmu.
Tapi permintaanku banyak. Izinkan aku menjadi skema kebahagiaanmu untuk saat ini, sampai nanti. Maaf aku tak tahu diri.
