Apa yang Bisa Kita Petik dari Hubungan Aneh Antara Tom Hagen dan Kuda?

Banyak laki-laki terlena dengan pesona Don Corleone dan bermimpi jadi Don seperti dia.
Baiklah, pertama-tama harus saya katakan, impian pretensius itu tidak bisa disalahkan. Pada yang paling terlihat, The Godfather memang mengajarkan kita kepemimpinan. Namun saya kira The Godfather lebih dari itu. Ia bukan hanya soal kepemimpinan (leadership) Sang Don. Meski kurang populer dikatakan, kita sulit menampik ada pula soal kepengikutan (followership) di situ.
Tom Hagen, dalam hal demikian, adalah personifikasi followership yang paling kentara. Loyalitasnya teruji waktu. Selalu ada bayang-bayangnya di setiap eksistensi Don Corleone. Di belakang Sang Don pula, Tom Hagen, lewat peran advocatus diaboli, setia meminjamkan sudut pandangnya sebagai penasihat sekaligus setan penyeimbang keputusan.
Bahkan khusus soal Tom Hagen, satu-dua motivator di luar sana sudah mengatakan bahwa: Tom Hagen wajib dimiliki setiap kelompok, perusahaan, LSM, ataupun Karang Taruna yang ingin bergerak maju.
Saya rasa si motivator ada benarnya. Posisi Tom Hagen sungguh krusial dan tidak boleh kosong dalam kelompok manapun. Itulah menurut saya, yang menjelaskan mengapa Presiden punya Watimpres dan Remaja Masjid sering memasukkan nama Pak Haji anu sebagai penasihat.
Di film The Godfather, saya sungguh menikmati peran Pak Hagen dan mengambil banyak hikmah dari situ. Ia termasuk tokoh yang cerdas menerjemahkan kredo Sang Don: “tawarkan sesuatu yang tak bisa orang lain tolak”. Termasuk saat Pak Hagen berusaha menawar-tanpa-bisa-ditolak seorang produser film keras kepala bernama Jack Woltz.
Ingat Jack Woltz dan kuda arab kebanggaannya yang dinamai Khartoum? Maka jelas, Anda ingat adegan ketika Jack Woltz bangun tidur pagi hari dengan sangat histeris. Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya, kecuali satu anomali kecil: Woltz terbangun dan mendapati dirinya sedang berbagi ranjang dengan bangkai kepala kuda arab miliknya.
Adalah Hagen, inisiator di balik terpenggalnya kepala kuda arab seharga milyaran itu. Hagen melakukannya sebagai bentuk teror karena Woltz sempat menolak tawaran darinya. Dengan jelas kita bisa menyimpulkan kegelisahan Woltz di pagi yang bersimbah darah kuda itu. Bahwa bila ia tetap berkeras menolak tawaran, maka giliran kepalanya yang akan terpenggal dan mungkin akan digeletakkan di kandang kuda.

Harus diakui, cara Hagen yang dengan cerdas mengekploitir hubungan Woltz dan kudanya itu, adalah bentuk teror yang sedingin air kulkas. Kuda, Anda tahu, merupakan simbol terbaik seorang alpha male. Dan pilihan Hagen untuk memenggal kuda, alih-alih membakar rumah atau membom mobil atau properti lain milik Woltz, adalah pilihan tepat yang membuat pesan bermuatan terornya efektif tersampaikan.
Saya tahu kuda. Saya pernah intens mengurus kuda milik Kiai saya sewaktu dulu di pesantren. Itu kuda australia. Tingginya nyaris dua meter dan punya banyak kemiripan dengan Khartoum. Bedanya Khartoum kuda arab dan kulitnya lebih gelap.
Saya tahu kuda, sehingga sedikit banyak saya bisa merasakan apa yang digelisahkan Jack Woltz, saat ia menyadari simbolisasi kegagahan dan keanggunan yang ia miliki mati di atas ranjangnya. Saya juga paham belaka apa yang dirasakan Pak Prabowo Subianto yang kebetulan hobi berkuda itu.
Hanya saja, kuda tetap saja kuda. Di luar ia boleh gagah, tapi setibanya kuda di kandang, sebagaimana binatang domestifikasi lainnya, ia tidak segan-segan berak dan makan di tempat yang sama. Saran saya, Anda jangan meniru sifat kuda yang seperti ini, yang begitu saja mengotori tempatnya makan dengan kotorannya sendiri.
Kalau sudah begitu jadilah Tom Hagen saja, jangan jadi kuda. Hagen tidak pernah berak di tempatnya cari makan. Apalagi bila menyangkut loyalitas dan kepercayaan. Sebab itulah ia begitu dihormati, dan sebaiknya kita meniru itu dan menghindarkan diri untuk memproduksi kotoran-kotoran yang tidak perlu, yang pada gilirannya hanya menjadikan kita manusia beracun.
Ada banyak konsekuensi bagi kita para follower, karyawan, atau bawahan, dari kegemaran berak di tempat kita cari makan. Oleh karena itu, ada banyak hal yang semestinya harus kita pikir mendalam sebelum menyebar kotoran, atau pisuhan-pisuhan tak keruan di medsos tentang bos-bos kita, atau membicarakan teman kerja dengan nada miring tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.
