Busana yang Harusnya Lebih Ditakutkan daripada Celana Cingkrang dan Cadar

Ada dua istilah menggemaskan yang belakangan ramai, datang dari Menteri Agama. “Cingkrang” dan “cadar”. Laki-laki bercelana cingkrang dan perempuan bercadar, konon, berbahaya bahkan mematikan. Setidak-tidaknya, patut diduga mereka menyimpan kunai dan alat-alat naruto di balik pilihan busana hariannya itu. Ke manapun mereka pergi.
Ada dua soal pelik. Pertama, narasi itu menggelikan. Kedua, sejarah kacrut berulang. Selidik punya selidik, rezim Pak Jokowi mengulang sudut pandang purba dari rezim Pak Harto. Sama-sama dari Solo. Sama-sama menjadikan fashion rakyatnya sebagai alat ukur. Kalau dulu Pak Harto mengaitkan orang-orang gondrong dengan kriminalitas. Sekarang, Pak Jokowi mengaitkan cingkrang dan cadar dengan radikalisme.
Pada zamannya Soeharto sudah mencapai titik ini: melibatkan ABRI untuk merazia orang-orang gondrong supaya tertib. Lalu apa itu tertib? Tertib adalah laki-laki yang rambut depannya tidak melewati alis mata, belakang tidak sampai menyentuh kerah baju, dan bagian samping tidak menutupi telinga.
Ya, betul. Dulu negara punya obsesi terhadap rambut. Sekarang obsesinya kain. Besok apa? Rambut gondrong tanpa sehelai pun kain yang menutupi sehingga kiwir-kiwir kalau terkena angin? Lanjutkan saja.
Saya membaca berita. Kabar terbaru menyebut, Menteri Fachrul Razi minta maaf kepada masyarakat atas polemik wacananya melarang celana cingkrang dan cadar. Nah, ini agak menenangkan. Paling tidak, skenario terlibatnya aparatur penindas untuk merazia cingkrang dan cadar berpotensi batal.
Satu hal mubazir lewat, dan akan datang hal mubazir selanjutnya, yang sepertinya tak akan jauh-jauh dari isu radikalisme. Supaya apa sih? Supaya bisa berteriak toleransi?
Toleransi penting. Tapi rasa-rasanya tidak ada negara yang bisa bergerak maju dengan itu. Apakah Amerika maju berkat toleransi? Mereka jual beli senjata, menguasai teknologi. Apakah hari ini, Cina si raksasa baru, maju berkat toleransi? Mereka menguasai perdagangan. Toleransi, bagi satu negara, dibutuhkan sebagai perekat bangsa, tapi tak cukup dijadikan alat memajukan sebuah bangsa.
“Jadi, Bung Damar, apa yang harus ditakutkan dari celana cingkrang dan cadar?”
Tidak ada, sebenarnya. Tidak ada yang radikal pada celana cingkrang dan cadar kecuali pandangan kita terhadap keduanya.
Kita harusnya lebih takut kepada seragam loreng Pemuda Pancasila (PP). Ancaman mereka lebih nyata. Di kampung saya, tak sengaja melirik mata seorang anggota PP yang sedang mabuk bisa jadi mereka artikan ajakan duel, dan Anda bisa bonyok karena itu.