Perubahan Makna Tempat Wisata
Ramai, lumayan kotor, harga mahal, Instagrammable.

Hari libur telah tiba, setelah seminggu yang penuh dengan berbagai kesibukan telah aku lalui dengan cukup baik, aku memutuskan untuk pergi sekedar jalan-jalan ke tempat wisata yang cukup populer belakangan ini bersama kerabat terdekat, sekedar melapas penat. Berbekal beberapa pengetahuan yang telah kutempa setelah meluncur di dunia maya, akhirnya aku membulatkan tekad untuk berangkat.
“Tempatnya bagus, banyak spot foto” beserta beberapa bintang kuning di sebelahnya di sebuah aplikasi penunjuk jalan. “Tidak terawat, sampah dimana-mana, harga mahal” sebut orang lain di bawahnya disertakan dengan bintang kuning yang jumlahnya lebih sedikit. Beberapa gambar juga kulihat beserta dengan kutipan-kutipan yang sampai sekarang aku tidak mengerti apa kaitannya dengan foto yang diunggah bersamaan di salah satu aplikasi berbagi gambar; terlihat begitu menarik dengan segala kehandalan fotografi sang pengunggah, turut mengundang orang pengikut untuk berkunjung.
Tiba saatnya aku datang ke tempat tersebut. Disuguhkan oleh beberapa sampah plastik bekas camilan pengunjung terlihat tersebar rata, menghiasi rumput-rumput yang tumbuh bersamaan. Pohon-pohon rindang nan hijau yang menghiasi gambar-gambar yang diunggah seorang kawan memang benar adanya, namun harapan serta bayangan akan udara yang segar yang tadinya ingin kumanfaatkan untuk menguras kembali paru-paru setelah seminggu menghirup polusi ternyata tidaklah jauh berbeda dengan kondisi udara sehari-hari di perkotaan.
Baru saja mengeluh akan harga tiket yang mahal untuk ukuranku, tiba-tiba dihampiri oleh sesosok abang-abang yang menawarkan spot untuk berfoto, tidaklah menarik aku karena: aku yang seringnya berada di belakang kamera, malas mengantri cukup panjang, dan ternyata mengharuskan aku membayar uang tambahan. Lalu untuk apa aku membayar di pintu masuk barusan?
Orang-orang disini ramai berdatangan, baik itu berdua maupun bergerombol. Nampak wajah berbinar dihiasi senyum andalan masing-masing, selagi ditangkap oleh kamera ponsel keluaran terbaru yang mereka banggakan. Seolah mereka tidak menghiraukan ketidaknyaman lingkungan sekitar demi terlihat bagus di jepretan beruntun, seolah semua ketidaksempurnaan tempat itu mereka maafkan.
Harapanku untuk berlibur untuk melepas penat, menghirup udara segar tidaklah semudah tahun-tahun yang lalu.
Ataukah cuma aku yang bersikap kolot? Entahlah.
