Pernah baca atau denger cerita Absalom? Buat yg blm tau, Absalom adl anaknya raja Daud yg melakukan kudeta kepada bapanya sendiri dan akhirnya terbunuh ketika dia perang melawan pasukan Daud (baca II Samuel 13–18).

Tapi kl kita baca awal cerita Absalom, sejujurnya mungkin wajar Absalom bertindak seperti itu. Kebayang ga kl kita punya 1–1 nya adik kandung yg cantik bgt lalu kecantikannya itu menarik hati adik tiri kita, dan ga tanggung2, adik tiri kita memperdaya adik kandung kita, memperkosanya, tp stlh itu ia mengusirnya krn benci…kalau Anda diposisi Absalom, apa yg akan Anda lakukan? Kalau saya, lepas dr jabatan sy sbg seorang pastor, udah pasti sy akan kesel, marah, sebel, benci, dan mungkin dendam kpd adik tiri saya itu…

Itu pula yg Absalom rasakan, tp sayangnya ia memelihara dan memupuk semua rasa itu didalam hatinya. Setelah ia berhasil membunuh Amnon adik tirinya, Absalom ga puas. Ia pun menyerang bapanya yg menurut dia membela Amnon, pdhal kalau kita di posisi Daud kita pun pasti akan bingung krn mereka semua adl anak-anak kandungnya.

Hari ini sy ga mau debat jd ini sebenernya kesalahan siapa…tp fokus sy adalah di Absalom…tanpa kita sadari, mungkin kita jg sedang memupuk rasa yg salah dalam hati kita. Berawal dr ga suka, benci, marah, dan semakin lama semakin besar, sampai suatu saat rasa itu tiba2 udah jd raksasa yg ga bs lagi kita kendalikan.

Ayo belajar dr Absalom….kebencian itu sesungguhnya ga akan membuahkan sesuatu hasil yg baik. Susah memang, saya tau persis hal itu, tp bukankah kita memiliki Tuhan yg juga sudah mengampuni kita? Dia lah yg akan memberikan kita kekuatan untuk belajar mengampuni dan melepaskan..mengampuni dan melupakan…

Ketika kebencian itu muncul, ingatlah akan kasih Tuhan yg sudah mengampuni dan menerima kita. Jangan tumbuhkan kebencian dihati kita, biarlah damai Tuhan yg semakin hari semakin besar sehingga pengampunan itu bs mengalir dari kita…

Have a great day!

#pagipagidapetpelajaranberat #sayajugabelajar #sayajugaberusaha #mengampuni #melepaskan #melupakan #lessonoflife

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.