“Mengapa Jadi Jurnalis Kalau Gajinya tak Seberapa?”

Minggu 14 Mei 2017. Matahari belum terlalu tinggi saat Ruang Pola Kantor Bupati Jeneponto telah ramai pengunjung. Tak biasa memang. Mereka adalah pelajar dari berbagai sekolah yang seharusnya liburan setelah seminggu terakhir sibuk dengan aktivitas belajar, mengerjakan tugas dan bermain seperti anak-anak seusia meraka pada umumnya.

Saya hadir di tempat itu sebagai pembicara. Mewakili organisasi profesi jurnalis dimana selama ini saya bernaung. Sebagai penyeimbang hadir pula Dosen Psikologi Komunikasi Universitas Negeri Makassar, Nur Fitriany Fachri yang akan bicara banyak tentang Komunikasi Massa.

Pagi itu, meski waktu molornya lebih lama tapi tetap ceria. LPM Psikogenesis yang punya gawean dalam talkshow bertajuk ‘Peran Media dalam Membentuk Persepsi’ ini. Tema yang jika ditelisik, sedikit berat dibanding nama talkshownya, diklat jurnalistik dini.

Spanduk talkshow dimana ada foto saya disana.

Tap apalah. Anak-anak ini memang perlu edukasi tentang apa itu media dan bagaimana seharusnya mereka menyikapinya. Setelah menjelaskan masalah dasar dalam kejurnalistikan. Mulai penjelasan tentang apa itu jurnalis, bagaimana mereka bekerja dan jenis-jenis karya jurnalis. Acara selanjutnya masuk sesi tanya jawab.

Ada tiga orang pelajar yang diberi kesempatan pertama. Semuanya masih duduk di kelas dua. Satu diantaranya perempuan. Meski masih malu-malu dan nampak terbata-bata, namun keberanian mereka patut diacungi jempol. Pelajar pertama langsung membuat kagum dengan pertanyaan yang diutarakan.

Ia bertanya perihal berita hoax yang sering kali muncul di media. Sementara jurnalis adalah profesi yang diikat oleh kode etik. Dimana salah satu pasalnya melarang menyebarkan berita bohong. Pertanyaan keduanya, tentang sanksi yang diberikan kepada jurnalis.

Kata dia, mengapa selama ini tidak pernah ada pemberitaan perihal jurnalis yang melakukan pelanggaran. Apakah jurnalis melindungi jurnalis itu sendiri? Lalu jika begitu, siapa yang berhak menghukum jurnalis. Padahal di negeri ini tidak ada satupun pihak atau badan yang kebal hukum.

Pelajar kedua yang bertanya lebih spesifik pada masalah yang dihadapi jurnalis. Ia menceritakan kegelisahannya terhadap orang-orang yang merusak citra jurnalis. Mereka yang sering keluar masuk sekolah dan mencari-cari kesalahan guru. Sehingga muncul paham pada dirinya, jurnalis adalah musuh guru begitu pun sebaliknya.

Ia juga bertanya mengapa profesi jurnalis belum menjanjikan secara finansial, sementara dilain sisi tetap banyak yang mau dan bertahan jadi jurnalis. Padahal kalau soal gaji, mereka tidak mencukupi dengan baik. Ia juga berkisah soal salah seorang wartawan yang rumahnya cukup besar dengan kendaraan super mewah.

Penanya ketiga, seorang perempuan berjilbab menitip beratkan objek pemberitaan pada ranah privasi. Ia mengaitkan berita bohong dan batasan apa saja yang harus dipedomani jurnalis saat memceritakan kisah yang menyentuh ranah privasi. Siapa saja dan apa saja privasi yang bisa dan tak bisa dijadikan karya jurnalistik.

Mereka pesertanya, yang pakai almamater mahasiswa UNM, sisanya pelajar se Jeneponto

Setelah menjelaskan panjang lebar semua pertanyaan itu, taklshow yang dipandu Sri Dian itu lantas ditutup. Sebelum akhirnya seseorang dari pojok belakang sebelah kanan mengacungkan tangan. Ia meminta waktu semenit untuk bertanya. Pelajar yang juga masih kelas dua itu kemudian diberi kesempatan oleh panitia.

Pertanyaannya tak kalah mengejutkan. Ia masuk ke ranah berpikir dan kesalahan berpikir dalam teori komunikasi massa, dimana media selalu mengutarakan makna dengan multi persepsi. Menurutnya, media secara tidak langsung melanggar tujuan utamanya sebagai sarana edukasi karena telah banyak memutar pola pikir pembacanya, salah satunya lewat fake news.

Ia juga bertanya bagaimana tinjauan berpikir dalam keilmuan komunikasi massa dalam menafsirkan kesalahan berpikir tersebut. Lalu bagaimana masyarakat, ia yang masih remaja dan generasi selanjutnya bisa terlepas dari pola pikir yang salah.

Well.. sama sekali saya tidak menyangka pertanyaan-pertanyaan ini akan diutarakan oleh anak SMA kelas dua, yang sekolahnya pun jauh dari kota besar. Kabupaten Jeneponto terletak 100 kilometer dari Makassar.

Terus terang, pertanyaan ini jadi renungan untuk saya, sebagai jurnalis selama 10 tahun, bahwa jurnalis itu bukan sekedar meliput, menulis dan mempublikasikan karya. Lebih jauh, efek karya itu bisa membangun kepribadian bangsa. Hal ini yang kadang tidak dipikir dengan baik oleh jurnalis. Dipikirnya ID Card hanyalah kartu kemana saja tanpa efek yang luas.

Well done guys…!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.