Ingatan saat Rintik hujan

“Aku tahu, cintamu bukan untukku….”

“Kamu sudah punya orang lain, yang tidak aku kenal.”

“Aku tahu, cinta ini memang berat sebelah — setelah aku mendengar sendiri darimu.”

“Aku patah hati, cinta pertama yang tidak jadi…, awal masa kuliah yang pahit, dan akhir kisah cinta yang layu..., kamu, seperti, pelangi, kini kamu pergi, dengan kekasih yang kamu banggakan…. Aku layak medapatkan ini. Salah ku, karena rasa ini tak pernah kutunjukan di depan wajahmu, tapi sekali-sekali melirikmu, dari bangku belakang, sekedar memuaskan rasa penasaran, akan tanda tanya di dalam hati, yang aku tahu jawabannya tidak pasti. apakah aku ada di hatimu?.

Tapi tak berani ku tunjukkan di ruang kelas, aku malu cantik, aku malu jadi diriku sendiri…, aku malu untuk berkata padamu, ‘aku sayang padamu,’ tidak.. tidak.., ‘aku cinta padamu.., kamu mau jadi pacarku?’…,

please, kapan aku bisa melakukan itu, pengutaraan perasaan ini seperti beban untukku, baik kupangkul, tapi nyatanya harusku buang…. Karena aku tak ingin merebut kebahagiaan mu, namun, setidaknya, biarkan aku mengutarakan cinta.”

“Dan biarkan tetes hujan membasuhku, aku tahu cinta ku ditolak, setelah itu perih akan melanda, tapi, aku telah mengutarakannya padamu.”

“setidaknya, aku, telah, mengutarakannya, kepadamu,”

Di waktu itu, dikenangan ini, didepan rumahmu, ku berjuang keras…, menyatakan cinta.

….yang meninggalkan bekas.

..aku hanya lelaki yang lesuh, setelahnya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Wirat A’s story.