Melancong ke Pegunungan

“AKU tak tahu,” itulah tangisanku yang tak bersuara, “aku betul-betul tak tahu. Jika tak seorangpun datang, biarkan saja. Aku tak pernah melukai siapapun, juga dikecewakan oleh orang lain, namun tak ada yang mau menolongku. Tak seorang pun. Selain itu hanya bila tak ada siapapun malah akan menjadi menyenangkan. Aku ingin benar-benar pergi melancong — kenapa tidak — dengan sekelompok orang yang tak berarti kepegunungan tentu, di mana lagi? Bagaimana bisa orang-orang yang tak berarti berkumpul dengan bermacam-macam tangan saling berkait dan bersilang kaki dengan langkah kecil di antara mereka. Tidak usah dikatakan lagi bahwa mereka semua mengenakan pakaian malamnya. Kami tetap berjalan terus, angin bertiup melewati celah gunung hingga badan dan lengan kami tak terlindungi. Tenggorokan kami menjadi lega saat berada di gunung. Sangat menakjubkan jika kami tak mulai bersenandung.”

_franz kafka

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Wirat A’s story.