Kesan Pertama Dikala Senja

Pagi ini, dikala terik matahari tidak menunjukkan hangatnya disekujur tubuhku, aku mengerti, karena ditempat ini, pepohonan-cemara rindang — menutupi langit-langit yang biru, cemara ini rasanya sudah cukup tua berada di tempat ini, berombongan dengan pohon cemara lain yang sama tingginya. Aku diam setelahnya, kutengok ke samping sisi kananku, di samping lengan ku, ada secangkir teh hangat yang ku tuang dari termos kecil — beberapa saat lalu, kini ku seruput, karena teh ini masih hangat dan pemandangan pagi ini yang tak kalah mendukung kenyamanan hidup untuk beberapa saat, tapi cahaya matahari tak sempat tembus ke dalam hutan ini dari celah-celah dahan atas pohon cemara, “ya…, jelas, ini adalah hutan….” Dan aku sendirian, membisu diam, menikmati ketenangan yang agak mencekam, di tempat yang memang tidak di huni manusia di zaman modern ini…. Tapi ini adalah salah satu tempat pelarianku dari bisingnya hidup di kota… daerah perbukitan yang masih asri.

“Sudah berapa lama aku tersesat di hutan ini…?” “..Teman-temanku apakah mereka mencari ku?…” “setidaknya aku masih punya teh ditermos kecil ini…” “untung tutup termos ini bisa dijadikan gelas.”

“Huuuhh…, saatnya aku bergegas mencari jalan keluar dari hutan ini!”

Sambil menggenggam gelas yang masih berisi teh hangat, aku bergegas menyusuri hutan pohon cemara… dan dengan harapan segera menemukan camp tempat teman-temanku berkumpul..

“Ini gara-gara aku terpesona dengan langit senja kemarin sore…!” — gumam ku. Sambil berjalan pergi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.