Untuk Kamu yang Pergi


Sedetik setelah kau pergi, aku baik - baik saja, begitupun menit, jam, dan beberapa hari setelahnya. Aku bisa menjalani hariku biasa saja, seperti tak kehilangan siapapun. Egoisku memang tinggi untuk membiarkanmu pergi tanpa berniat menahanmu kala itu. Bagiku bodoh amatlah jika kau memang mau pergi, silahkan. Aku akan bersama yang lebih baik, fikirku kala itu. 
Seminggu kemudian, aku mulai kefikiran tentangmu. Masih coba kuabaikan, mungkin hanya beberapa hal yang biasa kulakukan bersamamu. Wajar saja, fikirku lagi. Aku sudah putuskan untuk lupakan, apapun alasan yang menciptakan ingatan - ingatan akan kuanggap angin lalu. Keputusanku sudah bulat membiarkanmu pergi dari hidupku. 
Sebulan kemudian, semua fikiran tentangmu mulai mengganggu. Mungkin hanya rindu sesaat, fikirku lagi. Aku mengelak segala hal tentangmu. Aku menepis segala perasaan yang masih padamu. Aku terlalu gengsi untuk mengakui pengharapanku untuk kembali padamu atau kau kembali padaku. 
Berbulan kemudian aku bertemankan segala perasaan yang dulu sekuat tenaga aku abaikan, aku anggap angin lalu, aku anggap sebagai sesuatu yang sementara yang aku percayai akan segera hilang. Namun, kenyataan berkata lain. Semakin aku coba abaikan, perasaan itu semakin meminta diperhatikan. Aku disiksa perasaanku sendiri, perasaan yang sedari dulu coba kukendalikan. Perasaan yang coba kubunuh nyatanya berbalik membunuhku. Cobaan macam ini? 
Aku tidak mungkin terus memikirkanmu yang telah berjalan pergi meninggalkanku. Haruskah ku kejar? Kau ingin dikejar? Katakan!! Aku takkan mungkin mengejar dengan segala ketidakpastian. Aku juga takkan mungkin menunggu dengan segala ketidakpastian. Apa yang harus kuperbuat? 
Di tengah kebingunganku, di tengah keresahanku dengan perasaanku dia datang. Dia datang memecahkan segala resah ku. Tidak, dia tidak menggantikanmu jika itu yang kau fikirkan. Dia bukan pengganti apalagi pelarian. Ku tegaskan sekali lagi. Dia pengisi hatiku yang ternyata selama ini kosong. Kau hanya hidup di fikiranku, tidak di hatiku. 
Berbulan itu, kau mengganggu ku dengan segala kenangan tentang kita. Kenangan yang hanya mengisi fikiranku, tidak dengan hati. Kau bukan lagi yang di hati, sayang. Percayalah, kali ini aku benar - benar baik - baik saja tanpamu. Aku mulai mengukir kembali kisah yang kini sibuk menari di fikiranku. Kisah baru itu yang kini ku perjuangkan. Bagaimana dengan kamu? Sudah punya kisah baru? Kalau ada sempatkanlah waktu untuk menulisnya juga. Aku pasti akan membacanya dengan senang hati, seperti dulu saat kita sering bertukar cerita sampai malam larut. 
Tahun ini, tepat ketika aku menuliskan ini aku merayakan anniversary ku dengan dia. Kenapa aku tidak menuliskan kisahku dengannya jika saat ini anniversaryku? Tenang, aku akan menuliskannya nanti. Aku menulis ini hanya untuk mengatakan, sebelum bersama dia aku pernah dengan mu. Dia bukan yang pertama menemani hari - hariku, dia bukan orang pertama yang ku jadikan tokoh utama dalam kisahku. Sebelum ada dia, ada kamu. Sebelum aku bisa bersikap dewasa saat bersama dia, aku pernah begitu kekanakkanakan saat bersamamu. 
Hal paling penting yang ingin ku katakan lewat tulisan ini, 
Sebelum aku bisa tertawa lepas saat bersamanya, aku pernah menghabiskan waktuku dikamar menangisi kepergianmu.

Writer
Seseorang yang pernah ada kamu di hatinya

(26 Juni 2016)