Arti dari Nasehat Senior
Intro
Sudah lama tidak nulis lagi.. dan saya menganggap target 100 artikel dalam 100 hari gagal dan sukses. Bagi saya tak ada yang sepenuhnya gagal dan begitu pula sebaliknya tak ada sepenuhnya berhasil walau parameter 100/100 tidak berhasil terpenuhi. Gagal karena tidak mencapai parameter tersebut dan sukses karena bagi saya memulai hal baik adalah suatu yang harus diapresiasi, setidaknya diri sendiri.
Tapi sebenarnya bukan hal itu yang ingin saya sampaikan broh. Yang saya ingin bahas disini yaitu pengalaman saya yang saya nilai “sometime is weird”. Yaitu dalam hal menasehati seseorang yang mungkin saya akan melakukan hal berbeda tapi saya lakukan juga tidak sesuai apa yang saya ucapkan.
Sebelumnya saya mau disclaimer dulu bahwa perbedaan dengan saya ucapkan itu benar dan salah, tapi apa “the best decision” bagi yang meminta nasehat.
Oke simak ceritanya
Saya kan udah mahasiswa semester 9. Ya.. bukan angka buruk sih, tapi akan jadi semakin berat jika angkanya bertambah bagi mahasiswa. Maklum pada saat semester muda, sering keluyuran ke komunitas-komunitas yang positiv acaranya seperti enterpreneur dan programing/IT. Dan sebenarnya bukan menjadi alasan, tetapi saya tidak bisa membagi waktu sebaik teman-teman yang dalam komunitas.
Karena kebiasaan buruk itu saya menanggung getahnya. Kali ini saya harus duduk dikelas bersama junior saya yang terpaut 3 tahun broh !! Ya apalagi kalau ngulangnya harus sendiri. Berat kaki ini, semakin berat untuk melangkah ke kampus yang sering saya remehkan sewaktu semester awal.
Ketika sudah masuk jadwal kuliah pertama di ruangan para junior bahagia dengan waktu mereka, saya seperti iri saja. Akan tetapi saya ambil hikmahnya bisa kenal dengan junior sebagai pembuka circle baru begituh broh.
Tidak lama kemudian melihat stiker laptop yang baru dipasang, ada junior perempuan yang menarik dengan startup dan ingin cuti kuliah untuk magang/pkl di startup gede kayak toped atau BL.
Dengan kegugupan saya mungkin bahasa yang tersampaikan jelek yaitu jangan cuti, kalau pkl cari perusahaan teman yang membutuhkan dan bantu saja itu. Kurang lebih begitu tapi itu udah diperbagus ya bahasanya.
Maksudnya agar dia gausah cuti yang bisa ketinggalan banyak matakuliah, nanti kehilangan arah jika rencana tersebut gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Biarlah kuliah saja fokusin dulu yang lain sambilan aja. Intinya Jangan Sampai Kegiatan Luar Menganggu Kuliah.
Kalau boleh jujur, saya juga sering curhat kepada orangtua terutama ke Ibu seperti hal ini. Malah lebih ekstrem yaitu mau keluar kuliah dan menjadi Full Developer dengan ikut Program Bootcamp/Nyantri Sebagai Programmer. Tapi yang nama orangtua tidak ingin mengambil resiko buat anaknya tercinta dan ingin anaknya sukses ya sayang aja tinggalin kuliah. Tapi dalam hati saya masih menganggap jalan untuk Bootcamp atau temannya itu adalah hal yang benar dan kuliah ada jalan yang saya tidak sukai karena banyak birokrasi administrasi yang malas tapi harus dilewati seperti PKL/Skripsi.
Dengan melihat antara jiwa saya dan jiwa junior itupun mirip. Ingin mencari sesuatu baru, Tidak melihat prospek kuliah sebagai peluang dimasa depan. Tapi saya menyadari kadang melakukan hal yang tidak terlalu sukai akan terasa beban , padahal ada opsi yang selalu didambakan yaitu Learn by Doing.. dengan bekerja dulu, bootcamp dulu, dll
Jika saya yang diceramahi senior, saya tidak mau percaya.. malah saya suka nantangin dalam hati, Ahhhh saya tidak akan begitu kok.. cuman kamu aja senior yang merasakannya dulu. Dan sekarang mungkin balasan sombong dalam hati meremehkan wejangan senior.
Ternyata senior itu seperti juga orangtua kita dirumah. Mereka punya pengalaman yang pait dan mereka tidak mau berbagi kepaitan bersama kita, memberi yang manis-manis dan membimbing ke arah yang lebih baik kepada junior.
