Startup, Jadilah Hebat dalam Satu Hal Dulu

(sebuah cerita dari dunia nyata)

Jika anda pernah duduk untuk mendengarkan startup pitch dalam sebuah Lomba Startup, most likely than not anda akan mendengar seorang startup founder berkata

“Startup kami adalah all in one solution, dimana kami dapat melakukan A, B, C, D, E”

atau

“Kompetitor kami hanya dapat melakukan A, sedangkan aplikasi kami dapat melakukan A-Z.”

Jika anda harus mendengarkan startup pitch for a living, like me, I’m sure you hear this old song many many times.

So, is it good or bad?

For me personally, it’s bad. It’s really really bad.

Ini adalah pendapat saya pribadi, so saya tidak bisa generalize ini untuk semua orang.

Apa yang membuat saya berpikir seperti itu?

Since I know for sure, 99% of a startup is started with a very limited resources.

Sumber daya manusia? Terbatas

Waktu? Terbatas

Uang? Apalagi

So bagaimana ceritanya dengan seluruh keterbatasan itu anda akan membangun 5, 10, atau 20 fitur yang anda janjikan?

“Owh bisa, nanti kami akan melakukan A, dimana A akan menghasilkan B, dimana B dapat mendukung kami untuk melakukan C, nah nanti dari C kami akan mulai membangun fitur D, dan si D pada akhir nya akan menghasilkan E”

Say one of the most delutional startup founder ever.

Untuk para Startup Founder yang masih punya mindset perencanaan jangka panjang dengan puluhan fitur, I always quote one of the most underrated philosopher of our time : Mike Tyson.

“Everybody has a plan, until they got punched in the face.”

So what is the better way?

Menurut saya pribadi akan lebih bijak untuk fokus pada satu fitur atau value yang dapat diberikan oleh Startup anda.

Kenapa?

1. Efektivitas dan Efisiensi Sumber Daya

Seperti yang saya sebutkan di depan, since sebuah startup memiliki keterbatasan sumber daya, akan lebih baik seluruh sumber daya yang ada, baik tenaga, waktu, dan uang difokuskan untuk deliver satu fitur yang bermanfaat untuk user.

Hal ini juga akan memberikan kejernihan berpikir pada seluruh tim anda sehingga semua orang akan memahami apa yang sedang mereka bangun.

Sering kali saat saya ngobrol dengan teman saya yang bekerja di startup, baik besar maupun kecil, obrolan ini terjadi “Bro, lu napa bikin fitur A? emang ada yang pake?” respons nya adalah “Tau tuh si bos nyuruh gw bikin, ya gw bikin aja. Emang banyak mau nya tu orang. Nambah fitur mulu tiap bulan.”

I think if everyone has this kind of attitude, it will damaging the company in the long run.

Saya kasih satu contoh, untuk dapat mengeksekusi satu fitur simpel yaitu book recommendation dalam situs Amazon, dibutuhkan puluhan engineer dan data scientist untuk mempelajari consumer behaviour dan membangun recommendation library yang tepat kepada user.

Atau mau yang lebih simpel? Ambil contoh FLIP.ID, salah satu startup Indonesia favorit saya, meskipun tampaknya akan sangat berat untuk mereka menghadapi persaingan dengan GO Pay ke depannya. (good luck for them!)

FLIP hanya membangun SATU/ SIJI/ ONE / UNO fitur saja (sorry for the hyperbolic bold, need it to emphasize my point.)

TRANSFER ANTAR BANK TANPA BIAYA.

Sounds really simple right?

Tapi to make it works smoothly, mereka harus :

  1. membuka akun di banyak bank
  2. memonitor sisa saldo mereka di seluruh bank tersebut
  3. mempresentasikan bisnis mereka ke pihak bank dan otoritas
  4. mendapatkan izin transfer bank dari BI (this is really hard)
  5. verifikasi uang yang masuk
  6. melakukan transfer setelah verifikasi selesai
  7. melayani keluhan konsumen
  8. memperbaiki bugs di Mobile Apps mereka
  9. membangun kerjasama dengan bank
  10. memonitor pergerakan kompetitor mereka
  11. Merekrut lebih banyak SDM untuk melayani konsumen yang bertambah
  12. melakukan fundraising untuk scale up operation
  13. and so on and so forth.

Dalam waktu 30 detik saja saya dapat membuat 12 jenis aktivitas yang harus dilakukan oleh tim FLIP.ID. Saya tidak dapat membayangkan ratusan aktivitas lain yang harus mereka lakukan untuk memastikan SATU FITUR tersebut berjalan dengan lancar.

FLIP.ID saat ini memiliki lebih dari 100ribu pengguna, which is A LOT untuk startup yang masih bootstraping. (as far as i know)

I think this is a result of their Focus untuk mengeksekusi SATU FITUR dengan sangat baik.

2. Market Acquisition Lebih Murah

Jika konsumen tidak dapat memahami benefit dari produk anda, bagaimana mereka mau memakai produk anda?

Ini sering terjadi pada startup yang menawarkan terlalu banyak fitur, dan pada akhir nya malah membuat konsumen bingung apa yang sebenarnya Startup itu dapat lakukan.

Jika anda berfokus pada satu value yang ingin anda deliver dengan sangat baik, maka anda dapat lebih mudah mengedukasi konsumen tentang produk anda dan ini akan berdampak pada menurun nya CAC (Customer Acquisition Cost).

3. Proses Rekrutmen Lebih Efektif

Seiring waktu Startup anda akan membutuhkan orang lain di luar diri anda sendiri untuk berkembang. Rekrutmen disini tidak hanya tentang rekrutmen karyawan, tetapi juga tentang rekrutmen coFounder or Advisor.

Anda tentu ingin memiliki seorang coFounder atau Advisor yang cerdas, berkualitas dan memiliki pengalaman. Satu hal yang saya amati menjadi karakteristik umum orang berkualitas adalah mereka memiliki tingkat fokus berpikir yang sangat tinggi.

Mereka tidak suka dengan orang yang blabering, atau ngomong kesana kemari. Mereka senang dengan orang yang berpikir fokus dan sistematis.

Dan apa tanda paling kuat dari seorang yang berpikir fokus dan sistematis dalam Startup? Mereka fokus membangun Satu Fitur atau Value yang ingin mereka deliver ke User mereka.

Jika anda tidak seperti itu, maka kecil kemungkinan anda dapat meyakinkan orang berkualitas untuk bergabung dengan Startup anda.

4. Fundraising Process Lebih Efektif

Same with number 3.

Para investor juga umumnya orang-orang yang berkualitas.

Umumnya yah :)

5. Semua Startup Hebat Mulai dengan Cara Ini

Dan ini poin yang menurut saya paling kuat.

Mari kita lihat beberapa contoh berikut.

  1. Facebook : Profile Page, di mana mereka memindahkan profil mahasiswa Harvard yang tadi nya ada di buku tahunan ke dalam Internet.
  2. Alibaba : Direktori Bisnis, di mana mereka menaruh database UKM di China ke dalam Internet.
  3. Amazon : Book Commerce, membeli dan menjual buku Online.
  4. Uber : Uber Black, mereka memulai layanan nya di Paris dengan enabling orang kelas atas di sana memesan mobil mewah dengan smartphone mereka.
  5. Dropbox : File Sharing. Taruh file anda di dropbox, dan semua orang bisa akses file tersebut. That’s it.
  6. AirBnB : Book an Airbed. Orang yang ingin pergi ke suatu kota untuk menghadiri conference dapat menumpang tidur di Airbed dalam apartemen warga lokal.
  7. Gojek : GoRide. Sebelum ada GoFood, GoPay, GoMassage, GoBox, dan puluhan servis lain, Gojek mengakusisi pasar secara masif hanya dengan satu fitur yaitu : GoRide. Keep in mind, mereka membangun servis lain SETELAH mereka mendapat pendanaan yang cukup besar.
  8. Traveloka : Buy Airplane Ticket.

Dan masih banyak lagi contoh yang anda sendiri bisa baca tentang Startup hebat yang mulai dengan SATU fitur saja.

Sampai detik ini saya tidak pernah tahu ada Startup hebat yang pada awal nya langsung membangun 5–10 fitur.

Jika anda telah sukses akuisisi pasar dengan 1 fitur dalam produk anda, most likely startup anda akan berhasil meraih pendanaan, setelah mendapat pendanaan anda akan bisa mulai merekrut talent, dan BARU saat itu lah waktu yang tepat untuk membangun 5, 10, atau 20 fitur lain yang dapat anda tawarkan kepada user base anda.

Tapi jika anda belum memiliki investasi, saran saya berfokuslah pada satu fitur, pada satu value.

Keep on Grinding!

Keep on Hustling!

See you guys next week.