Dalam Perjalanan Mencari Kitab Kopi

Okay… judulnya kesannya terlalu bombastis. Tapi begitulah… kebanyakan orang membuat judul bombastis akan tetapi sarat dengan “misleading” (duh jadi keingetan sensei bilang begini), qe3. Tidak apa-apa, ini bukan tulisan riset jadi lebih santai.


Fokus tulisan ini ada pada kopi. Ya, sebagai penggemar kopi perjalanan ini cukup panjang. Walaupun saya sudah bukan pengikut aliran ekstrem garis kanan dari kopi, qe3 saya tetap suka menikmati cita rasa kopi yang fantastis.


Gambar yang ada di headline atas adalah salah satu kopi instan. Definisi instan dan tidak instan agak “vague” disini. Ijinkan saya menyampaikan kopi instan disini maksudnya adalah kopi yang kita tinggal buka dan minum tanpa perlu menyeduhnya lagi. Kalau yang sachetan kecil biasa diminum itu bukan kopi tapi jagung :D. Gak boleh protes !.

Jenis kopi sebenarnya sangat banyak sekali. Saya hanya penikmat bukan pakar jadi nanti kalau keliru silakan dikoreksi ☺. Dari mulai arabica, robusta, ekselsa dan liberica saya cenderung suka cita rasa dari arabica.

Di negara matahari terbit untuk menikmati kopi sangat banyak caranya. Dari mulai yang seperti Klinik Kopi punya mas Pepeng di Jogja (duckduckgo sendiri ya) hingga yang tinggal masukkan koin ¥100 langsung keluar dari vending machine. Oh ya gambar yang ada di headline itu beli di Lawson.

Tullys Coffee, saya nggak tahu di Indonesia perusahaan ini ada apa nggak tapi satu hal yang pasti Indonesia adalah surganya pecinta kopi. Sayangnya tidak semua orang menyukai kopi sehingga kekayaan kopi kita lebih banyak dinikmati oleh orang-orang luar.

Honey Milk Latte

Gambar diatas ini adalah Honey Milk Latte produksi dari Tullys Coffee, saya paling suka karena disamping diberikan kopi ada pemanis (bagi yang tidak suka kopi pahit) berupa madu dan juga ada susunya.

Untuk cara seduh sebenarnya ada banyak macamnya, silakan duckduckgo sendiri ya. Dari banyaknya jenis cara seduh saya sudah pernah mencoba dari yang menggunakan french press, vietnam drip, espresso, ibrik cara Turki hingga yang tubruk. Kalau ingin merasakan kenikmatan inti dari kopi saya sarankan seduh dengan espresso, saya jadi ingat seringnya pesan double espresso di Klinik Kopi.

Dolce Gusto

Nah, kalau gambar Dolce Gusto ini dari lab. Kebetulan pantry di lab memiliki fasilitas yang luar biasa dari mulai air panas untuk mandi, air panas untuk minum, hingga dolce gusto. Standar mungkin kalau di lab-lab di Jepang ada air panas minimal untuk mandi tapi saya yakin tidak ada Dolce Gusto :D.

Saya sudah sampaikan sebelumnya kalau saya penikmat kopi. Memang benar kopi itu dinikmati sebenarnya tanpa gula agar kita dapat merasakan nikmat crema yang muncul dari hasil perasan murni. Salah satu cara melihat kemurnian dari kopi adalah bagaimana crema itu muncul dan aroma serta cita rasa yang dihasilkan keluar hehehe.

Bagi yang suka dengan gula sebenarnya juga nggak apa-apa juga. Siapa seh kamu mau atur-atur :D. Saya ambil manhaj pertengahan saja :D. Bukan mau mengatur-atur tapi menawarkan paradigma lain dalam menikmati kopi.

Kalau disini saya sudah terbiasa membelinya di Kaldi Coffee Farm. Tentu saja kopi Indonesia yang saya beli. Dari dulu kopi Mandheling adalah yang saya sukai.

Per 200 gram dihargai ¥700 an. Ya kalau dihargai rupiah sekitar Rp. 80.000an tergantung kurs. Banyak jenis yang tersedia di Kaldi tidak hanya Mandheling. Mungkin selepas habis saya mau coba yang lain. Siapa tahu jatuh hati. Saya coba melengkapi kitab kopi saya :D

  • dalam perjalanan ke kampus

Shonandai, 7 Maret 2018

#travrelogue part 11

Andrey Ferriyan