Kebutuhan akan Internet dan Listrik

Saya masih ingat ketika masih bekerja di salah satu instansi pemerintahan daerah ketika listrik padam maka semua aktivitas pun terhenti. Ruangan yang berubah menjadi panas dan gelap otomatis memaksa semua orang untuk keluar dari ruangan. Tidak cuma staf bahkan kepala bidang pun ikut keluar (sebenarnya kami punya genset tapi jangan ditanya kenapa nggak berfungsi).


Sore Hari di Kampusnya Power Rangers :D

Kebetulan depan kantor kami ada sebuah ruangan besar yang digunakan untuk menerima tamu dengan banyak sofa dan tempat duduk yang empuk. Saya jadi teringat pernah membimbing mahasiswa di tempat ini hehehe. Oke lanjut kebetulan ruangan saya bersama dengan programmer lain bersamaan sehingga kami semua pun keluar dari ruangan.

Berjejerlah semua orang duduk dengan memegang gadgetnya masing-masing. Sepertinya hanya kantor kami saja yang seluruh stafnya keluar dari ruangan karena memang semua pekerjaan dan aktivitas berfokus pada komputer (ya mungkin tidak semuanya karena ada administrasi) dan membutuhkan koneksi internet.

Waktu itu tahun berapa ya saya lupa hehehe. Saya berujar kepada salah satu kawan saya waktu itu bahwa instansi kita adalah salah satu yang tingkat ketergantungan internet dan listrik sangat tinggi. Jika internet mati pun sama (walaupun jarang) semuanya cenderung keluar ke tengah ruangan untuk duduk-duduk dan buka gadget.

Hal yang sama sebenarnya dengan di Jepang. Disini tingkat kebutuhan saya untuk menggunakan internet dengan kecepatan tinggi sudah masuk kebutuhan primer. Alhamdulillah kampus bekerja sama dengan salah satu provider memberikan hak akses ke mahasiswanya untuk mempermudah akses internet yang terhubung langsung ke jaringan kampus dengan menggunakan WIMAX unlimited. Ya… unlimited tanpa tipu-tipu. Tentu saja sekalipun unlimited tetap ada batasan maksimal per hari. Batasan disini maksudnya bukan kemudian koneksi mati akan tetapi lebih kepada maksimal penggunaan per hari. Mungkin sama juga ya di Indonesia ?, tapi terakhir saya belum menemukannya.

Terakhir saya merasakan di Indonesia adalah 4G dengan kecepatan yang sudah dapat dirasakan nyaman buat saya. Maaf saya malas untuk ngecek berapa besarnya. Tapi perkembangan internet dan kecepatan akses di Indonesia sudah terasa lebih baik (menurut saya) walaupun mungkin harganya masih tergolong mahal di beberapa daerah (saya nggak tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya jadi tidak tahu).

Semoga ke depan internet unlimited atau hak akses dengan menggunakan internet bisa didapatkan dengan harga yang lebih terjangkau. Saya nggak bisa membayangkan kalau tiap hari kita harus bolak-balik pull container. Jika per image sebesar 600 megaan kita harus download dan upload maka bisa dibayangkan kalau quota cuma 3 giga atau 5 giga bisa habislah dalam satu dua hari. Paling cocok ya kita mesti pasang dedicated. Tapi sepertinya harga langganan masih terbilang mahal.

Saya tidak mau membandingkan antara Jepang dengan Indonesia karena masing-masing memang startnya sudah berbeda dengan kondisi policy yang berbeda pula. Berbicara listrik alhamdulillah disini saya belum pernah merasakan adanya pemadaman kalau di rumah. Beda kalau kampus ya, karena ada yang namanya pemeliharaan jadi ada kondisi “BLACKOUT” setiap tahun minimal satu kali biasanya menjelang akhir tahun. Jika kondisi pemadaman dilakukan otomatis seluruh koneksi internet mati kecuali yang krusial di data center seperti router utama dan beberapa server.

Saya melihat kecepatan akses internet di Indonesia semakin kesini lebih baik dan potensinya akan terus meningkat walaupun mungkin belum merata. Saya optimis ke depan ketika saya kembali (jangan tanya kapan) Insya Alloh Indonesia semakin lebih baik. Kalau listrik saya tidak tahu. Terakhir tahun 2017 balik ke Indonesia kondisi listrik masih suka ada pemadaman bergilir entah karena dilakukan pemeliharaan ataupun lainnya.

* sembari jalan beli kopi mandheling

Yokohama-shi, 6 Maret 2018

#travrelogue part 10

Andrey Ferriyan