Perjalanan ke Masjid Camii Turki

#travrelogue part 8

Perjalanan kali ini sedikit berbeda. Saya bersama dua dengan orang sahabat telah merencanakan beberapa hari sebelumnya ke sebuah masjid yang monumental, minimal bagi saya pribadi. Sebuah masjid khas Turki yang dibangun awalnya pada tahun 1938 (sumber: nippon.com). Masjid yang terletak di tengah pemukiman daerah Yoyogi-Uehara ini merupakan salah satu masjid terbesar di Jepang.

Akses masuk ke dalam masjid ini ada dua cara, bisa melalui tangga menuju lantai kedua yang langsung masuk ke dalam pelataran masjid atau bisa melalui pintu gerbang utama di lantai satu. Sebelum masuk saya berpapasan dengan beberapa wanita Jepang yang berjilbab.

Jika kita masuk ke dalam melalui pintu gerbang utama di lantai satu, kita akan disuguhi dengan pemandangan indah pernak-pernik khas Turki.

Sayangnya saya tidak sempat bertanya dengan detil apa saja benda-benda yang dipajang di dalam etalase kaca.

Di lantai satu ini dijual pula makanan ringan khas Turki dan pin-pin magnet bergambar bertuliskan Istanbul dan Blue Mosque.

Coklat-coklat khas Turki dijual dengan kisaran harga 700an Yen hingga 2000an yen. Di tempat ini pula dapur umum tempat memasak makanan untuk berbuka puasa atau makan siang selepas solat Jumat berada. Tentunya untuk makan siang dikala bukan bulan Ramadhan. Sebuah ruangan besar di sebelah kanan terhampar dengan meja-meja dan kursi yang cukup banyak. Ruangan besar ini digunakan untuk santap buka puasa. Ruangan besar ini pun tetap dipisahkan. Laki-laki makan di sebelah kanan dan perempuan sebelah kiri. Tempat wudhu laki-laki juga ada di lantai satu. Adapun untuk perempuan turun satu lantai lagi. Saya tidak tahu apakah dibawah lantai satu masih ada ruangan lainnya. Ruangan tempat wudhu ini berada dipersimpangan antara tangga lantai menuju lantai kedua dan tangga ke bawah tempat wudhu perempuan.

Sambil menunggu waktu berbuka saya naik ke lantai dua. Dalam perjalanan naik saya melihat tembok dan lantai masjid ini menggunakan marmer. Mungkin seluruh bagian tembok dan lantai masjid ini seluruhnya. Sampai di lantai dua adalah ruangan terbuka dan masjid tempat untuk solat ada di bagian depan di ruangan tersendiri lagi.

Begitu masuk ke dalam ruangan masjid ini akan terasa kental gaya khas Turki atau mungkin beginilah kura-kura rata-rata masjid di Turki. Saya memang belum pernah ke Turki namun ada keinginan bisa kesana kelak.

Beberapa pola melengkung yang terpapar di langit-langit malah mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah.

Di waktu-waktu tertentu masjid ini sebelum berbuka puasa diadakan kajian umum. Dengan berbahasa Jepang tentunya. Di hadapan saya yang mengisi adalah orang dari Suriah.

Beliau menjelaskan kepada orang-orang yang hadir tentang Suriah dulu dan sekarang. Kisah kemudian berpindah ke penjelasan apa itu puasa, makna puasa dan aktivitas apa saja yang dilakukan tatkala orang berpuasa. Penjelasan keadaan warga Suriah yang tetap melaksanakan kewajiban puasa sekalipun dalam keadaan situasi sulit dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Kebetulan dua orang sahabat saya sudah cukup lama di Jepang, mereka berdua yang menjelaskan kembali kepada saya. Hal yang sangat menarik adalah mereka yang hadir tidak hanya orang-orang muslim akan tetapi non-muslim pun turut hadir duduk dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemateri.

Setelah materi selesai saya dan sahabat saya berkenalan dengan beberapa orang Indonesia yang juga baru pertama kali datang ke masjid ini seperti saya. Adzan berkumandang dan waktu berbuka pun telah masuk, saya dan sahabat beranjak keluar menuju pelataran terbuka.

Ada orang-orang yang bertugas menyebarkan kurma dan air putih untuk berbuka. Masya Alloh jika kita melihat lebih jauh di masjid ini tak hanya orang Turki atau Jepang saja akan tetapi banyak bangsa. Pakistan, India, Afrika, Suriah, Malaysia, Indonesia dan mungkin masih banyak yang lainnya. Disini saya melihat keindahan syariat Islam yang masuk ke relung hati para pemeluknya dari berbagai macam bangsa dan ras. Tidak ada yang dilebihkan atau paling mulia karena semua sama dan yang dilihat oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala hanyalah ketakwaannya.

Selepas berbuka sejenak saya kemudian masuk ke dalam masjid karena Iqomah telah dikumandangkan. Saya dan sahabat saya melaksanakan solat maghrib berjamaah.

Setelah selesai saya mulai antri untuk menyantap makan besar yang telah disediakan oleh pengurus masjid.

Suasana santap berbuka yang hangat karena sekali lagi disini berkumpul seluruh bangsa. Dan mereka yang makan pun tidak mesti muslim bahkan non-muslim pun ada. Masakan yang dihidangkan adalah masakan khas Turki.

Kebiasaan dari orang-orang Jepang adalah selesai makan merapikan sendiri tempat makannya dan diberikan kepada petugas jaga. Semuanya serba mandiri.

Selepas santap berbuka saya menuju ke belakang masjid. Alloh memberikan karunia kepada saya penggemar kopi sebuah kopi khas Turki walaupun sayang tidak menggunakan ibrik.

Sembari menunggu adzan isya saya berkenalan dengan beberapa orang Indonesia lainnya dan juga orang Pakistan dengan anaknya yang super imut dan lucu bernama Fatimah. Sayang sekali saya tidak sempat berfoto dengan anak itu.

Saya dan sahabat melaksanakan solat isya dan taraweh berjamaah. Disini solat taraweh dilaksanakan sebanyak 23 rakaat dengan dua rakaat salam. Tidak ada kultum taraweh sebagaimana yang ada di Indonesia. Mungkin dikarenakan waktu. Selesai taraweh kurang lebih jam 21.40. Saya pun kemudian pulang.

Ada hal menarik lainnya yang bahkan mungkin di negeri non-muslim lainnya tidak ada. Suara adzan dan beberapa sholawat melalui pengeras suara dikumandangkan keluar. Dan sungguh terdengar keras sampai ke seberang jalan. Warga sekitar seolah-olah sama sekali tidak terganggu dan santai saja. Sungguh salut dengan pola dakwah yang disebarkan oleh masjid ini. Insya Alloh lain waktu saya akan kembali lagi.

  • Menikmati weekend

Andrey Ferriyan

Yokohama, 19 Juni 2016

Like what you read? Give Andrey Ferriyan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.