CNN Indonesia

Jutaan Rumah Tangga di Asia Tenggara Bangkrut karena Kanker

Diagnosis penyakit kanker ibarat sebuah vonis kematian. Namun, tak banyak yang menyadari, selain fakta tentang tingginya angka kematian, 75 persen penderita kanker juga mengalami kebangkrutan dalam jangka waktu satu tahun setelah diagnosis kanker.

“75 persen penderita kanker juga mengalami kebangkrutan dalam jangka waktu satu tahun setelah diagnosis kanker.”

Berdasarkan sebuah penelitian baru dari George Institute for Global Health, penyakit kanker bisa menjadi beban bagi masyarakat dan sistem perawatan kesehatan di Asia Tenggara jika tidak ditangani dengan cepat.

Menurut Mark Woodward, profesor dari George Insitute for Global Health, biaya yang dikeluarkan untuk penyakit kanker tak hanya berdampak bagi penderita, tapi keluarga dan lingkungan mereka juga akan merasakan dampaknya.

“Berdasarkan hasil penelitian ini, kami melihat bahwa biaya yang berkaitan degan penyakit tidak menular seperti kanker adalah salah satu faktor yang signifikan terhadap kemiskinan di Asia Tenggara,” kata Woodward dalam acara konferensi pers Result of a Study on Socioeconomic Burden of Cancer in South East Asia Countries di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (20/8).

Epidemi melanda Asia Tenggara

Menurut Woodward, kanker akan menjadi epidemi yang akan melanda Asia Tenggara. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya populasi yang menua dan meningkatnya beban penyakit kanker itu sendiri baik dari segi medis, psikologis, dan keuangan keluarga.

Jumlah kejadian kanker dan angka kematian akibat penyakit ini pun mengkhawatirkan. Pada 2012, menurutnya, ada lebih dari 770 ribu kasus kanker baru dan 527 ribu kematian yang disebabkan oleh kanker di Asia Tenggara.

Yang memprihatinkan, Woodward beserta timnya memperkirakan, jumlah kasus baru akan meningkat sekitar 70 persen pada 2030. Angka kasus baru ini mencapai 1,3 juta jiwa.

“jumlah kasus baru akan meningkat sekitar 70 persen pada 2030"

Tak cuma itu, hampir setengah, atau sekitar 44 persen pasien yang selamat mengalami kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh kanker. Pada akhirnya mereka menggunakan tabungan masa depan.

Bencana keuangan dan kematian

ACTION menemukan, faktor-faktor yang meningkatkan bencana keuangan dan kematian pada pasien kanker. Yang pertama, menurut Woodward adalah usia. “Pasien yang lebih tua, di atas usia 65 tahun, lebih mungkin mengalami bencana keuangan dan kematian dibandingkan pasien di bawah 45 tahun.”

Faktor kedua, menurut profesor di bidang statistik dan epidemiology di Universitas Oxford, sekaligus profesor epidemiologi di Universitas Johns Hopkins ini adalah tingkat pendapatan.

“Penghasilan rendah adalah faktor kunci untuk meramalkan bencana keuangan, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah.”

Yang ketiga menurut Woodward adalah tingkat pendidikan. “Tingkat pendidikan yang lebih rendah secara signifikan diasosiasikan dengan tingginya kematian dan bencana keuangan.” Faktor terakhir adalah asuransi kesehatan.

Pasien kanker tanpa asuransi kesehatan lebih mungkin mengalami bencana keuangan dibandingkan mereka yang memiliki asuransi. “Partisipan tanpa asuransi memiliki risiko kematian lebih tinggi. Sementara pasien dengan asuransi, relatif dapat bertahan hidup dan tidak mengalami bencana keuangan.”

“Ada kebutuhan nyata bagi pemerintah untuk memperluas perlindungan keuangan melalui asuransi kesehatan sosial. Yakni yang memberikan dukungan terhadap perawatan kanker untuk melindung warganya dengan lebih baik dari biaya pengobatan kanker.”

(win/mer)

Like what you read? Give Andri Witjaksono a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.