Growth Hacking di Ignition 1000 Startup Digital Second Wave

Willix Halim, COO Bukalapak menjadi Speaker di Ignition 1000 Startup Digital pada tanggal 22 April 2017

Kegagalan marketing mungkin sudah biasa bagi sebuah perusahaan besar. Namun, bagi startup atau perusahaan rintisan digital yang mayoritas tidak memiliki anggaran besar, strategi pemasaran yang salah dapat berakibat fatal.

Oleh sebab itu, startup perlu meramu strategi pemasaran yang lebih fokus, efisien, dan efektif. Pemikiran tersebut yang kemudian melahirkan strategi pemasaran digital bernama “growth hacking” . Sebelumnya di Amerika sudah banyak di gunakan teknik pemasaran digital seperti ini, namun sekarang ini mencuat kembali beriringan dengan munculnya startup-startup.

Willix Halim, COO Bukalapak menceritakan lebih lanjut mengenai teknik growth hacking. “Growth hacking adalah pola pikir. Startup pemula jangan dulu berpikir tentang pendapatan. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana mendatangkan pengguna sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan data,” kata Willix.
“Konsep marketing dan Growth itu berbeda, marketing lebih memiliki peran sebagai fungsional. Yang diterapkan di Bukalapak dan Freelancer adalah Growth Mindset dimana setiap produk memiliki responsibility. Artinya setiap squad (tim) ada marketing manager, product manager, enggineer ,dll bertanggung jawab atas sebuah produk”, lanjut willix.

Pada konsep growth hacking, AARRR sebuah metrik baku yang sering digunakan atau mereka menyebutnya sebagai Pirates Metric for Startup. AARRR membantu startup memikirkan lima metrik terpenting dalam bisnis : Acquisition, Activation, Retention, Referral, and Revenue. Masing-masing dari lima metrik ini sangat penting untuk startup, dan untuk bisnis pada umumnya.

Pertama, Acquisition adalah ketika kita memulai mengidentifikasi pelanggan sebagai pengguna individual. Selain menjalankan berbagai kampanye inbound dan outbound untuk mengarahkan lalu lintas ke website, landing page, atau produk / jasa, upaya acquisition juga harus mencakup metrik konversi tingkat tinggi berdasarkan setiap channel.

Ada beberapa channel yang biasanya di gunakan seperti : SEO, Email Marketing, Newsletter subscriptions. Kemudian Activation : Visitors Show Signs of Understanding and Want More. Di sini, fokusnya adalah pada Conversion. Secara khusus, ingin mempertimbangkan the primary conversion metrics yang menentukan keberhasilan channel dan campaign tertentu, bukan high-level atau micro-conversions.

Kita bisa menggunakan conversion dari homepage untuk mengorong pengguna mendaftar sebagai titik awal, tetapi harus membangun seluruh funnel di Analisys Tools. “Misalnya kalau di Freelancer, aktivasi yang dimaksud adalah ketika pengguna membuat proyek dan membuka lowongan paruh waktu bagi orang-orang yang mencari kerja,” Willix memberi contoh.

Selanjutnya, Retention adalah semua tentang penggunaan layanan atau produk dari waktu ke waktu. Cara agar pengguna kembali ke situs untuk melakukan pembelian lebih. KPI Retention diantaranya : MAU: monthly active users,Frequency, Session time.

Lalu Referral, yakni bagaimana pengguna membuat teman-temannya juga menjadi pengguna. Artinya setiap pengguna membawa beberapa pengguna / pelanggan lagi. Contoh Uber adalah startup yang paling cepat berkembang dan memiliki evaluasi sebesar $ 40B +. Referral Program mereka memimpin aggressive growth, jadi measurement itu sangat penting.

Yang terakhir barulah Revenue, yakni bagaimana pengguna mendatangkan uang untuk perusahaan. Revenue tergantung pada penawaran, mungkin memiliki revenue model yang sangat berbeda, ini adalah bagian penting untuk mencari tahu. Sebut saja Facebook berbasis iklan, lalu berbasis langganan (Evernote), berlangganan & biaya (Shopify).

Untuk mengetahui cara tepat guna mengimplementasikan AARRR, diperlukan data signifikan. “Selama ini, kegagalan pemasaran produk dikarenakan kelemahan analisis data. Semua hanya berdasarkan asumsi, jadi tidak ada ukurannya,” kata Willix bicara kegagalan umum sistem pemasaran tradisional.

Analisis data didapat dari banyak faktor. Setiap startup yang bergerak di bidang berbeda-beda memiliki standar sendiri dalam menganalisis data. Growth hacking memiliki banyak variabel, kita dapat memiliki variabel yang sama untuk dimainkan. Strategi pengukuran yang baik dan proyeksi matematika sangat berpengaruh ketika dikombinasikan dengan automasi

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.