Fred

M. Andryandana
Nov 1 · 2 min read

Kerap ku berpikir bila diri ini tak relevan dengan ekosistem lingkaran sosialku saat ini dimana beberapa orang acapkali mencoba untuk membangun citra nan “elok” agar eksistensinya dapat dipandang oleh sekitarnya. Jujur saja, diri ini cukup tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya sehingga sulit pula bagiku ‘tuk berbuat dan bertindak “sesuai” acuan dan standar sosial yang sudah terkonstruksi sedemikian rupa (bahkan enggan untuk mengikutinya). Ku merasa diri ini hanya ingin melakukan apa yang dihendaki yang kadang tak bersinggungan dengan apapun standar yang sudah ku sebutkan itu.

Panggil diri ini dengan sebutan “orang yang tak mahir beradaptasi”. Atau sebutan “orang yang tertutup, tak asik, cuek, dan pendiam”.

Sebenarnya, diri ini tak seperti yang kebanyakan teman bayangkan, atau yang seperti pandangan yang ku tulis di paragraf sebelumnya. Diri ini bisa menjadi orang yang akan “banyak omong” ketika membicarakan hal-hal apapun, diri ini bisa menjadi orang yang akan memperjuangkan pendapatnya ketika merasa ada suatu hal yang tak sejalan dengannya, diri ini bisa menjadi orang yang akan mengatakan lelucon-lelucon receh yang ia yakin akan membuat orang-orang yang mendengarkannya terbahak-bahak, dan diri ini akan menjadi orang yang akan peduli dan memperhatikan orang-orang sekitarnya.

Ku merasa bahwa problematika utama dari “masalah” di atas adalah kurangnya kepercayaan diri. Diri ini juga memiliki kekhawatiran yang berlebih terhadap pendapat orang lain mengenai dirinya. Cemas jika omongan-omongannya tak akan dihargai dan dipertimbangkan oleh orang lain. Takut jika kelakar-kelakarnya hanya akan membuat orang-orang tidak nyaman untuk melanjutkan pembicaraan dengannya. Itulah sebabnya mengapa diri ini sulit ‘tuk menjumpai orang yang sefrekuensi dan paham dengannya.

Pada akhirnya, hal yang dibutuhkan hanyalah berdamai dengan diri. Mengerti bahwa personaliti seperti ini akan sukar untuk diterima. Memahami bahwa di akhir hari, satu-satunya menanyakan kabarmu hanyalah sebuah kalimat bertuliskan “What’s happening?” yang muncul di interface media sosial berlogo burung berwarna biru itu.

Hahaha, pelik memang.


“Itulah isi surat kesan pesan yang dibacakan oleh si tokoh di hadapan teman-teman dan orang tua yang menghadiri graduasi SMA-nya, tepat sehari sebelum si tokoh mengakhiri hidupnya. The End.

Seluruh isi kelas bertepuk tangan dan melakukan standing applause setelah mendengar pembacaan cerita buatan Fred yang ia bacakan sendiri di depan kelasnya. “Yes, lega juga, ceritaku disukain orang-orang nih, semoga nilai akhir semesterku gede deh”, ucap Fred dalam hati. Tugas membuat cerita pendek ini merupakan tugas akhir semester Fred yang akan sangat berpengaruh ke nilai akhirnya dan ia merasa senang.

Ironinya, ia juga merasa sedih karena apa yang ia tulis merupakan… apa yang ia rasakan sendiri di dalam dirinya.

The End.

    M. Andryandana

    Written by

    berkeluh kesah

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade