A. H. Siregar
Aug 22, 2017 · 4 min read

Mengendarai kereta terakhir seusai menonton konser

………

Hari rabu kemarin saya datang ke sebuah konser band asing di kawasan niaga terpadu sudirman. Band yang tampil ini saya curigai adalah sekumpulan sapien yang terlampau semangat dalam mencintai, karena semua lagunya yang pernah saya dengarkan bertema cinta dan semuanya sendu. Bersama ratusan orang lainnya saya menyimak konser tersebut dari awal sampai akhir, disebabkan lagu-lagu yang dimainkan demikian sendu atmosfer dari konser semalam pun ikut sendu dan khidmat macam pengajian atau khotbah jumatan. Saya sendiri hanya hafal beberapa lagu jadi sepanjang konser saya lebih fokus mendengarkan sambil mengingat-ingat cinta yang tidak sempat di masa lalu.

Konser selesai menjelang pukul sepuluh malam, saya dan teman yang menemani saya ke konser itu menganggap itu waktu yang terlalu cepat untuk pulang ke rumah. Akhirnya pergilah kami ke tempat makan yang ada di sekitar lokasi konser. Kami menentukan tempat makan dengan satu ronde batu-gunting-kertas. Sialnya tempat yang akhirnya kami datangi ternyata tidak sesuai ekspektasi. Pertama-tama menurut teman saya font yang mereka gunakan untuk papan nama mereka sangat tidak bagus. Selain itu setelah kami masuk ke dalam ternyata restoran ini didesain macam frankenstein, tiap sudut punya disain yang berbeda dari sudut lain dan sialnya disain-disain itu tidak padu satu sama lain. Sebenarnya musik yang mereka putarkan di tempat itu tidak begitu buruk namun sekali lagi musik dan suasana tempat itu secara keseluruhan tidak cocok sama sekali dan malah memperkuat krisis identitas tempat tersebut.

Setelah menyelesaikan perbincangan panjang yang tidak koheren kami memutuskan untuk pulang sekitar pukul 11.30. Sambil menunggu teman saya menemukan uber kami berjalan mengitari kawasan niaga terpadu sudirman. Teman saya baru berhasil bertemu dengan supir uber pesanannya pukul 11.55. Setelah teman saya pulang saya menghentikan taksi dan berangkat menuju stasiun sudirman. Sampai di stasiun sudirman sialnya saya disambut seorang satpam yang menyampaikan bahwa kereta terakhir tujuan Bogor sudah berangkat. Satpam yang sama menyarankan saya untuk ke stasiun manggarai segera karena di sana kereta terakhir tujuan bogor akan berangkat pukul 12.40.

Berangkatlah saya ke stasiun manggarai dan sampai di sana pukul 12.30, sampai di loket saya disambut penjaga loket yang sudah menenteng papan tanda “closed”. Sambil memberikan kartu krl saya dengar dia berteriak kepada temannya untuk menunggu karena masih ada satu orang lagi yang akan naik, saya asumsikan orang itu adalah saya. Setelah mendapat kartu dan masuk peron saya langsung lari ke terowongan penyeberangan untuk pindah ke peron enam dan disana sudah ada kereta tujuan Bogor terakhir yang ada di jadwal hari itu. Masuklah saya ke salah satu gerbong kereta itu sambil melompat dengan rasa lega dan dibarengi kantuk luar biasa.

Tidak lama setelah kereta meninggalkan Stasiun manggarai saya meluangkan waktu untuk melihat ke seluruh penjuru gerbong. Hampir semua yang ada di kereta malam itu berjenis kelamin laki-laki(walaupun saya tidak tahu pasti mereka laki-laki atau bukan karena ini hanya asumsi semata). Sepenglihatan saya hanya ada seorang ibu-ibu berkerudung saat itu, beliau duduk disamping seorang laki-laki yang saya asumsikan adalah suaminya.

Yang mengganggu pikiran saya adalah kesadaran bahwa ada yang tidak biasa dari impresi orang-orang yang berada bersama saya di gerbong saat itu. Kesemuanya memakai pakaian yang berwarna gelap, kalau tidak putih, abu-abu, cokelat, hitam, atau biru yang sangat gelap. Mereka memilik potongan rambut yang bermacam-macam namun hampir semua dipotong pendek, dan menurut saya tidak begitu rapih.

Pengamatan saya yang hanya sepintas menghasilkan kesimpulan bahwa orang-orang yang saya amati barusan adalah kaum pekerja. Lebih spesifik lagi mereka adalah kaum pekerja urban yang tinggal di kota-kota satelit di sekitar Jakarta seperti Bogor, Depok, dan Bekasi. Namun menurut saya beliau-beliau ini berbeda dari yang biasa saya temui di kereta tujuan Jakarta-Bogor pagi hari. Menurut saya manusia-manusia yang ada bersama saya di gerbong malam itu jauh lebih kelelahan daripada yang biasanya saya temui pagi hari. Dan saya bukan hanya merujuk pada kelelahan fisik, menurut saya mereka jelas kelelahan fisik karena beberapa memilih untuk duduk di lantai walau sudah dua tiga kali ditegur oleh petugas keamanan yang lewat.

Menurut saya, kalau saya punya cukup keberanian dan kegilaan hari itu mungkin saya akan mengajak beliau-beliau bicara satu persatu dan bertanya tentang harapan dan impian. Yang sialnya saya rasa kebanyakan dari mereka sudah tidak begitu perduli dengan dua kata tersebut, walaupun saya tidak punya bukti untuk mendukung anggapan tersebut namun saya yakin demikian. Menurut saya lagi beliau-beiau yang ada bersama saya di gerbong malam itu adalah target utama media-media tukang bikin huru-hara dengan headline seenak jidat, ini saya asumsikan dari banyaknya dari mereka yang sedang membaca berita di media online di ponsel masing-masing. Dan asumsi saya lagi beliau-beliau itu juga adalah tulang punggung penyebar berita-berita super mahadahsyat yang biasa kita dapat di grup whatsapp, mulai dari berita begal sampai berita freemason/zionis/israel.

Menurut saya imaji yang saya dapatkan dalam gerbong kereta malam itu lebih kuat dari cerpen slice of life manapun tentang masyarakat urban. Dan imaji itu diikuti kengerian bahwa suatu saat nanti di masa depan saya bisa saja menjadi beliau-beliau yang baru saja saya deskripsikan barusan. Menjadi tua, kelelahan, tanpa harapan, dan berjuang mati-matian untuk tidak tenggelam dalam kerasnya arus kehidupan urban.

)

A. H. Siregar

Written by

menulis, menangkap cahaya, mengandaikan peristiwa.