Hachiko, Kisah tentang Kesetiaan Seekor Anjing yang Melegenda

Sebelum terbang ke Jepang, anak saya wanti-wanti: jangan lupa mengambil gambar patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya, Tokyo. Maka, begitu sampai di Tokyo, ibu kota Jepang sejak tahun 1889, dan kota terakhir yang saya kunjungi setelah sepekan sebelumnya menyambangi kota-kota sejak Fukuoka, tentu saya tidak melupakannya.

Hachiko memang melegenda, bahkan melampaui wujudnya sebagai seekor anjing peliharaan. Kesetiaan Hachiko kepada tuannya bisa jadi melampaui watak banyak manusia sekarang ini yang justru tak merasa malu memperlihatkan ketidaksetiaan dan pengkhianatan.

Bersama dua teman lain, saya turun di Stasiun Shibuya, kawasan pertokoan yang supersibuk di jantung kota Tokyo, beberapa waktu lalu. Begitu kaki menjejak emplasemen stasiun, mata langsung mencari pintu keluar (exit gate). Beruntung patung Hachiko termasuk salah satu pintu masuk-keluar stasiun (Hachiko-guchi). Hanya beberapa meter dari pintu keluar itu, tampaklah patung Hachiko.

Patung perunggu itu dibuat pada April 1934. Saat peresmian, Hachiko yang masih hidup sempat hadir. Setelah Perang Dunia II atau tahun 1948, patung itu didaur ulang oleh anak pematung pertama. Patung menjadi tempat rendezvous populer. Setiap pengunjung yang menyambangi Shibuya hampir selalu menghampiri patung Hachiko. Hachiko menjadi salah satu tujuan wisata yang tak mungkin dilewatkan saat ke Shibuya. Mengapa patung Hachiko ada di situ?

Kesetiaan seekor anjing

Ini berawal dari kisah hidup Hachiko, seekor anjing berwarna coklat keemasan jenis akita inu, yaitu yang berkembang biak dari pegunungan Jepang utara. Hachiko bukan sembarang anjing peliharaan. Hachiko boleh jadi telah melampaui takdirnya sebagai seekor hewan. Sepanjang hidupnya, ia memberikan kesetiaan penuh kepada tuannya, Profesor Hidesaburo Ueno (1872–1925). Profesor Ueno pertama kali mengambil Hachiko yang baru berumur satu tahun pada 1924. Profesor Ueno merupakan dosen di Departemen Pertanian Universitas Tokyo.

Setiap hari, sang profesor pergi ke kampus menggunakan kereta. Dan, setiap hari pula, Hachiko selalu menunggu dan menjemput tuannya di sekitar Stasiun Shibuya. Sampai pada suatu hari tahun 1925, Hachiko tidak menemukan tuannya keluar dari stasiun. Akan tetapi, Hachiko tetap menunggu di tempat biasanya.

Ternyata sang profesor meninggal di tempat kerjanya setelah mengalami pendarahan. Karena tidak pernah menemukan tuannya, Hachiko pun setia menunggu untuk menjemput tuannya itu di depan Stasiun Shibuya. Ia datang ke stasiun itu setiap hari selama 9 tahun 9 bulan 15 hari. Hanya satu tujuannya: menjemput tuannya, Profesor Ueno.

Menarik perhatian

Tingkah Hachiko itu pun menarik perhatian orang. Namun, ada juga yang kurang suka dengan kehadiran seekor anjing di tempat itu. Pada tahun 1932, Hachiko lalu diperlakukan baik, antara lain ada yang memberi makan. Itu terjadi setelah Hachiko masuk koran Asahi Shimbun edisi 4 Oktober 1932.

Kisah Hachiko terus bermunculan di media dan anjing kelahiran 10 November 1923 (dan mati pada 8 Maret 1935) itu pun kian populer. Sebagai kenangan, tidak hanya di Shibuya, patung Hachiko juga ada di kampung Hachiko di Prefektur Akita: satu di luar Stasiun Odate, satu lagi di depan Museum Anjing Akita.

Di samping makan tuannya di Aoyama, ada juga monumen Hachiko. Kisahnya difilmkan, antara lain Hachiko Monogatari arahan sutradara Seijiro Koyama yang dibintangi Tatsuya Nakadai, Kaoru Yachigusa, Mako Ishino, dan Masumi (1987) serta Hachiko: A Dog’s Story arahan sutradara Lasse Hallström yang dibintangi Richard Gere, Joan Allen, dan Sarah Roemer (2009).

Memang pantas karena Hachiko merupakan kisah kesetiaan dan pengabdian tiada tara yang ditunjukkan seekor anjing kepada tuannya. Sungguh terharu membaca kisah Hachiko, yang jika dibandingkan cerita masa kini mungkin tiada bandingannya.

Saya langsung becermin, betapa banyak manusia-makhluk sempurna, memiliki hati dan pikiran-justru memperlihatkan karakter yang sangat buruk: pengkhianatan, ketidaksetiaan, dan saling menyerang. Setelah perjalanan sekitar sepekan di “Negara Matahari Terbit”, yang di masa lalu dianggap sebagai “saudara tua” itu, saya membawa pulang kisah tentang kesetiaan. Sebuah “oleh-oleh” perjalanan yang sangat menyenangkan. Semoga banyak orang di Indonesia (juga dunia) yang sering ribut dan suka menusuk dari belakang dapat belajar tentang kesetiaan dari seekor anjing bernama Hachiko.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Aneka Petindo’s story.