Bunda

Bunda dan saya punya sifat yang hampir sama; sama-sama kerasa kepala. Hal-hal kecil bisa kita perdebatkan karena kita berdua memang se“batu” itu. Kadang saya memilih untuk diam, walaupun pikiran saya terus menentang pendapat Bunda. Sebenarnya ada banyak pandangan Bunda yang tidak sejalan dengan pendapat saya karena Bunda memaknai hidup dengan kacamata yang berbeda dengan milik saya. Namun entah seberapa banyak perbedaan yang kita punya, tidak ada batasan antara kita untuk saling bertukar pikiran. Saya mungkin anak yang paling sering diomelin Bunda, tapi saya juga anak yang paling sering Bunda jadikan sebagai human diary. Banyak sekali keluh kesah yang beliau curahkan kepada saya biarpun saya jauh di perantauan. Bahkan saking seringnya curhat, Bunda tidak pernah absen menghubungi saya untuk sekedar ngegosipin adik saya yang susah sekali kalau disuruh makan.


Saya ingat nama orang-orang yang sering Bunda sebut dalam ceritanya, namun Nenek tidak termasuk ke dalam daftar nama orang yang pernah Bunda keluhkan.

Dulu, Nenek tinggal di rumahnya yang berada di Jakarta bersama Om saya. Setahun yang lalu Om meninggal dunia karena serangan jantung dan Bunda akhirnya memutuskan untuk membawa Nenek ke Bandung untuk tinggal di rumah saya.

Nenek memang sudah pelupa. Kadang beliau tidak ingat bahwa beliau berada di Bandung, kadang beliau lupa nama Bunda, dan bahkan beliau pernah lupa bahwa Kakek telah tiada.

Dengan kondisi Nenek yang seperti itu, Bunda tidak pernah lelah untuk memperkenalkan dirinya dan menyebutkan satu persatu nama kakak-kakaknya untuk menyegarkan kembali ingatan Nenek. Sambil mengusap air matanya yang menetes, Bunda juga menjelaskan dengan sangat hati-hati bahwa Kakek sudah berpulang sejak 18 tahun yang lalu. Dan bersama raut wajahnya yang hangat pula, Bunda selalu menyempatkan waktunya sepulang kerja untuk duduk di sebelah Nenek, sembari menceritakan masa-masa kecil hingga dewasanya saat masih tinggal bersama Nenek, Kakek dan kakak-kakaknya.


Saya bukan pribadi yang bisa menunjukkan rasa cinta saya kepada seseorang secara langsung, tapi apa yang saya lihat dari kacamata saya adalah; Bunda memiliki banyak definisi. Bunda bisa jadi merupakan wujud ketulusan yang paling besar dari diri seorang manusia. Definisi yang lebih puitis lagi, Bunda adalah muara dari semua wujud kasih sayang terdalam yang dimiliki oleh seorang anak perempuan kepada ibunya.

Begitu banyak hal yang berseberangan dalam hal memaknai hidup antara saya dengan Bunda. Namun dalam hal memberi, mungkin saya yang paling lemah jika dibandingkan dengan beliau. Apa yang Bunda berikan kepada Nenek, bukan semata-mata pelajaran untuk saya dalam memperlakukan Bunda di kemudian kelak, karena di luar itu semua Bunda telah menghadiahi saya banyak hal. Hal-hal kasat mata, yang bahkan tidak bisa dibantu dengan lensa minus dan silindris yang sekarang ini saya gunakan. Hal-hal yang berada di luar kendali pikiran saya, yang tidak dapat saya jabarkan secara rinci hanya dengan logika.

Hal-hal yang mungkin sudah menjadi anugerah yang begitu besar, yang mungkin Tuhan hadiahi kepada saya melewati Bunda.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.