16.

Hai, kamu.

Ingin sekali menyapa, tapi takkan terdengar. Pikirku, kamu tersenyum sekarang. Dan, aku hendak berpikiran seperti itu untuk kamu. Tapi nyatanya, tidak mudah. Karena berpikiran seperti itu saja mencoret semua yang seharusnya baik-baik saja.

Ingin sekali mengeluarkan angan. Seperti ini, aku semakin susah percaya denganmu. Karena kamu itu seperti tidak nyata. Dan kenapa? Kenapa disana seperti itu? Dan apakah? Apakah kamu hendak seperti sesosok orang yang aku sayang sebelumnya? Kenapa aku bisa menerima perasaan ini? Dan kenapa kamu bisa mempunyai perasaan seperti itu?

Aku mau kamu, tapi di setiap waktu lalu. Kamu seperti tidak untuk melalui cobaan yang begitu susah jika terjadi.

Apakah bisa? Kamu ada untukku, di dalam satu sisi egoisku. Untuk cukup dengan batas bersama dirinya?

Ya, agar aku kuat. Ya, agar kita bisa bersama walaupun tak bisa bersatu.

Apakah kamu mau?

Dan, mengapa jawaban di anganku kamu akan menjawab tidak?

Yasudahlah, memang kamu tidak seperti yang aku pikirkan.

Selamat tinggal.

Eh! Tetapi jika tidak, mendekatlah. Dan, selamat datang. Aku tunggu disini, untuk baik-baik saja bersamamu.

(Aku untuk kita, 16 Maret 2017)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Angela Dradjati Dewiatena’s story.