How I Really Seize Today — Strategi Memadatkan Semua Hal Berharga Dalam Satu Sabtu

Live as if there’s no tomorrow

Seberapa sering kita membaca kutipan itu terus membatin, “Yeah, easier said than done”? Kalau generasi Millennial kenalnya istilah #YOLO. Intinya sih sama, “Seize The Day” atau membuat setiap hari itu berharga dan bermanfaat.

Saya menulis blog ini sambil selonjoran di sofa yang lokasinya paling strategis di rumah untuk menutup hari. Habis dipikir-pikir, runutan Sabtu saya ini benar-benar padat with the most valuable things I can possibly do.

Dimulai dari jam 6 pagi, di dalam taksi, menuju titik kumpul sukarelawan yang bakal bantu-bantu mendirikan Posyandu di Marunda, Cilincing. Ada sekitar 15 sukarelawan yang siap dengan seragam kebangsaan dengan tulisan “volunteer” that we wear proudly.

Setelah berkendara 1 jam melalui outskirt Jakarta Timur lalu nyebrang ke Jakarta Utara dan menerpa begitu banyak jalan raya penuh dengan truk besar dan containers, akhirnya kami tiba juga di lokasi briefing sukarelawan.

Tugas dibagikan dan sukarelawan boleh memilih tugas yang diinginkan. Karena saya kurang punya upper body strength, tentunya aktivitas ‘menguruk’ tanah kurang kondusif. Jadi saya memilih jadi kru tukang cat saja deh.

Lalu kami berjalan lagi masuk ke gang sempit yang hanya muat 1 motor dan 1 pejalan kaki bergantian. This is Jakarta, our megapolitan. But when you see the condition of houses inside these alleys, they pale in comparison to the big brick houses that we live in, yang tak mengherankan, mereka sebut dengan label “gedongan”.

Sampai di lokasi Posyandu, saya cukup tertegun karena Posyandunya belum ada. Hanya ada 1 bedeng dari tripleks dan 1 bangunan yang mungkin sebesar 4x4 meter dari bata yang sedang dibangun. Jadi inilah tugas kami.

Segera semua sukarelawan mulai bergerak. No time to be wasted! Dimulai dari membuang sampah dan puing di sekitar area Posyandu. Lalu diteruskan dengan pembersihan bagian dalam bedeng tripleks, pengecatan dan pembuatan plang Posyandu Mawar 3, Cilincing.

Dengan 15 kru sukarelawan, semuanya selesai dalam beberapa jam saja.

Ngebut pulang ke rumah karena beberapa gelintir teman baik saya janji mau datang ke rumah untuk makan siang. Meskipun terlambat hampir 2 jam karena kemacetan Jakarta yang bombastis dan lokasi rumah saya yang di ujung dunia, akhirnya makan siang sederhana dengan menu hanya Nasi Biryani pun sekejap tandas!

Kami lanjut ngobrol ngalor ngidul, bercanda, dan saling menertawakan diri dan satu sama lain (kemampuan menertawakan each other & self ini sangat penting untuk kelangsungan persahabatan lho!!) sambil snacking pisang dan singkong goreng plus ngeteh dari poci. Taking snapshot of this moment, I love how simple things in life can be so joyful. #indahnyapersahabatan.

Acara lunch & afternoon tea was over. Saya bergegas mandi untuk jemput anak saya semata wayang dari rumah nenek kakeknya — papa & mama saya. Sudah 2 minggu saya absen kunjungan ke rumah mereka karena kesibukan mendera.

Sampai di rumah mama & papa, ternyata keluarga adik saya pun sedang crash di sana. So, everybody got to sit down & had a nice homemade dinner together (like we used to when we were kids), which rarely happens, as all of us are usually busy with our own list of things to do on Saturdays. #JoyfulFamilyTime.

Setelah saya pikir-pikir, hari inilah yang saya sebut sebagai “a day worth to live for”:

  • Membantu yang membutuhkan: checked,
  • Meluangkan waktu untuk para sahabat: checked,
  • Meluangkan waktu bersama keluarga besar: checked.

Setelah hari sepadat karya ini, I could die tomorrow and I wouldn’t have any regrets.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.