3 Menit Kedua

Ada sebuah cerita dari masa lalu, tentang seorang laki-laki dan perempuan.

Tentang mereka yang suka minum kopi bersama walau di tempat terpisah.

Tentang mereka yang suka membaca buku yang sama walaupun tidak bersebelahan.

Tentang mereka yang suka mendengarkan melodi yang sama walau sebenarnya beda selera.

Mereka memang jarang bertemu dan menyapa.

Tapi mereka merasa kehilangan ketika tidak berdekatan.

Dan merasa dekat walaupun tidak dengan sentuhan dan kalimat mesra.


3 menit kedua, bagiku ini saatnya merangkai kembali serpihan impresi yang telah jatuh dan pecah.

Tapi memang tetap akan ada bekas. Tidak akan pernah mulus sempurna.

Belum pernah aku sesabar ini sebelumnya.

Ku kumpulkan serpihan yang tersisa.

Satu persatu kucoba untuk kurangkai ulang.

Tidak mudah untuk membuat agar tampak indah walaupun tetap meninggalkan bekas.

Kucoba sepuh retakan yang berbekas dengan sedikit taburan emas.

Kintsugi kalau mereka bilang

Walaupun banyak retakan tapi kucoba buat untuk terlihat lebih bernilai dan berharga.