Merapal Nadir Tradisi

anggertimur
Jul 23, 2017 · 3 min read
FOTO & CERITA: © ANGGERTIMUR LANANG TINARBUKO

Sinaran mentari tak hadir tepat waktu. Pagi pucat pun menyajikan langit ragu keabuan. Hal ini agaknya memengaruhi bahasa tubuh sosok senja yang perlahan menghampiri dari ruang peraduannya. Kedua matanya masih tak fokus menatap, tanda kesadaran yang belum genap. Sesekali ia usap, upaya berkelit dari sisa kantuknya.

Namun tak butuh waktu lama untuk kemudian memantik gairah bercerita Ki Ledjar Soebroto (79), yang masyhur dikenal sebagai Dalang Wayang Kancil. Bahasan tentang wayang tanpa sadar membuat nada bicaranya meninggi, dengan napas sedikit tersengal. “Saya menyayangkan kenapa budaya kita ini tak dihargai di negeri sendiri. Tapi malah dicari-cari dan dipelajari orang asing”, tegasnya menggebu.

Ki Ledjar Soebroto adalah salah satu seniman yang hampir tak pernah absen mengharumkan budaya nusantara ke dunia internasional. Saban tahun sejak 2008, seputar bulan Mei hingga Juni, ia akan melawat ke negeri kincir angin, Belanda. Ki Ledjar akan tampil di acara Tong Tong Fair, pagelaran megah kebudayaan Eurasian di Den Haag, Belanda. Biasanya, seusai merampungkan acara di Tong Tong Fair, ia akan berkeliling Eropa, menuju Belgia, Jerman, Prancis, lalu menyebrang ke tanah Britania Raya.

“Sehabis acara Tong Tong Fair, biasanya saya ditanggap murid-murid saya yang dulu belajar di Indonesia”, ujarnya bangga. Salah satu murid Ki Ledjar yang tersohor adalah Sarah Belby asal Inggris. Hal inilah yang memudahkan langkah Ki Ledjar mengharumkan budaya dan tradisi wayang ke penjuru dunia.

Wayang Kancil yang menjadi napas perjuangan Ki Ledjar merupakan upayanya untuk meremajakan cara bercerita lewat dongeng fabel. Namun tetap memuat pesan adiluhung di dalamnya. “Lha di Indonesia yang nanggap wayang kancil saja sedikit, apalagi wayang purwa biasa yang ceritanya lebih susah dipahami anak zaman sekarang”, tuturnya sambil tertawa kecut.

Kancil dalam wayang Ki Ledjar menjadi antitesis sosok kancil yang selama ini karakternya dibentuk sebagai hewan yang cerdik namun berkonotasi negatif. Menurut penelusurannya di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde (KITLV), sebuah perpustakaan di Leiden, Belanda, Ki Ledjar menemukan literatur dongeng kancil yang tidak ada di Indonesia. “Ini saya copy dari perpustakaan KITLV, isinya Serat Kancil Tanpa Sekar karya Ki Padmasusastra dari Karaton Surakarta, terbitan tahun 1909”, tunjukkan sembari membuka lembaran kertas berisi tulisan hanacaraka.

Ki Ledjar menuturkan, dirinya menyayangkan bangsa Indonesia selama ini larut dalam cerita dan pesan sosial yang salah. Sementara pesan bermuatan positif malah tersimpan di negeri lain. “Saya ingin meluruskan cerita si kancil yang selama ini sudah salah dipahami masyarakat terutama anak-anak”, tambahnya.

Semangatnya bercerita memantik dahaga. Memaksanya beranjak kembali ke ruang peraduannya. Ia kemudian duduk, menyesap kopi yang sudah siap dinikmati, perlahan. Suaranya pun berangsur meninggi kembali. Tak berapa lama, ia meminta untuk diambilkan wayang kancil, kerbau, buaya, pohon, dan gunungan dari kotak kumpulan wayangnya. Rupanya ia ingin menunjukkan salah satu lakon andalan yang kerap ditampilkannya. “Ini lakon Air Susu Dibalas Air Tuba”, tuturnya mengawali pementasan.

Lakon ‘Air Susu Dibalas Air Tuba” berkisah tentang buaya yang tak tahu berterimakasih pada si kerbau yang telah menolongnya. Di sini sosok kancil hadir sebagai penengah, memberi masukan dan mendamaikan kerbau dan buaya. “Kancil itu seperti Semar. Sosoknya mengayomi”, tukas Ki Ledjar. Wayang kancil ini juga digunakannya sebagai media edukasi pada masyarakat tentang kesadaran lingkungan.

Usai menggelar pentas Wayang Kancil di atas kasur tipisnya, kekuatan Ki Ledjar mendadak sirna. Ia kemudian meringkuk dalam lelahnya. Nampak jelas guratan sayu di wajahnya. Begitu lelah, menjadi penjaga tradisi wayang di era gegar budaya.

anggertimur

Written by

#PenceritaFoto | Documentary & Travel Storyteller | Archiving Indonesian Local Culture #FotoSeriPenceritaFoto | https://www.instagram.com/anggertimur/

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade