Para Peretas Jarak

Pagi mulai beringsut mengakrabi tengah hari. Seiring aktivitas manusianya yang kian giat. Pun tak berbeda, ketika membaur diri dengan aktivitas masyarakat di Desa Sendangsari. Desa ini adalah penghujung Kabupaten Bantul yang berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo di sisi baratnya. Kedua kabupaten ini diisi jeda alami berupa aliran gagah Kali Progo.

Masyarakat dari arah Ngentakrejo, Kulon Progo meniti rakit menuju Sendangsari, Bantul. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Saban hari, sejak pukul 05.30–17.30 WIB, masyarakat dari Desa Sendangsari, Bantul dan Desa Ngentakrejo, Kulon Progo saling bertukar populasi manusia. Mereka memanfaatkan Kali Progo untuk meretas jarak dengan meniti rakit. Sebuah rakit yang kuat disesaki 8 kendaraan roda dua ini tak pernah sepi menghantarkan para peretas jarak menuju tepian.

Para peretas jarak ini enggan memutar jauh melalui Jembatan Srandakan, Bantul lalu menuju Brosot, Kulon Progo, atau sebaliknya. Mereka memilih menghemat waktu, sembari menikmati lanskap Kali Progo dalam cengkrama bersama sesama peretas jarak di atas rakit. Rakit ini dinahkodai Sugeng Suyitno (57) yang bertugas memastikan para peretas jarak sampai ke tepian dengan selamat.

Tawa Sugeng Suyitno (57), nahkoda rakit di Kali Progo. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

“Rakit ini dulunya pakai kayu pohon randu. Tapi karena sudah susah mencarinya dan kurang awet, sekarang pakai plat bordes sebagai dasarnya. Lalu dilapisi bambu di atasnya”, tutur Suyitno sembari menarik kawat baja, penghubung sisi timur dan barat Kali Progo. Suyitno juga menuturkan, rakit yang menjadi moda transportasi andalan masyarakat Bantul dan Kulon Progo ini merupakan milik Mbah Widiutomo (80) asal Lendah, Kulon Progo.

Seorang nenek duduk di atas rakit sebagai upaya menjaga diri agar tak terjatuh saat mulai melintas arus Kali Progo. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Suasana di tengah Kali Progo yang sesekali diakrabi arus sungai memberikan sensasi tersendiri. Buai angin dan lanskap kali yang tepiannya ditumbuhi pepohonan hijau nampak memesona. Menghadirkan komposisi warna hijau dan biru langit dalam satu waktu bersamaan.

Suhardi (65), tengah melempar jala ke Kali Progo dari atas rakit. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Ketika sampai di tepi barat, naiklah Suhardi (65), seorang penjala ikan. “Saya mau melempar jala, ayo saya difoto”, ajaknya antusias ketika rakit mulai melenggang di tengah Kali Progo. Ternyata ia rutin menumpang rakit ini menuju sisi timur untuk menjala ikan di lokasi favoritnya. Candaannya kepada para peretas jarak pun melengkapi perjalanan singkat melintas Kali Progo.

Kotak uang Suyitno yang didominasi uang 2.000 rupiah. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Cukup 5 menit dan mahar 2.000 rupiah untuk sekali melintas. “Sebenarnya tidak ada tarif khusus namun biasanya mereka memberi 2.000 rupiah. Kadang ada yang memberi 5.000 atau 10.000 dan meminta untuk tidak diberi kembalian”, aku Suyitno.

Aktivitas masyarakat seperti berangkat sekolah, bekerja, berdagang di pasar, atau hanya berpindah lokasi memancing telah disandarkan pada moda transportasi ini. Menghidupi Kali Progo sebagai jeda sekaligus penghubung dua kabupaten yang masyarakatnya begitu akrab dan saling mengisi.