Pertautan Arab dan Tionghoa di Tanah Jawa

FOTO & CERITA: © ANGGERTIMUR LANANG TINARBUKO

Sudut Dusun Bendo ialah saksi terciptanya kuliner masyhur hasil pertautan Arab dan Tionghoa di tahun 40-an silam. Perlu menyisir sisi selatan Yogyakarta untuk menelisik cerita pertautan ini. Titi jalan utama Srandakan, Bantul menuju arah barat, sebelum melintasi Sungai Progo, putar kemudi sedikit ke utara. Masuki jalanan desa nan rindang yang ruasnya masih berselang antara tanah dan aspal. Temui ujungnya dan akan kita dapati pabrik Mi Lethek Cap Garuda. Tempat produksi mi lethek yang sekaligus jadi pelestari pertautan Arab dan Tionghoa di tanah Jawa.

Para pekerja tengah memproses mi lethek yang telah dibersihkan dengan air. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)
Proses dibi (dibentuk) menjadi bentuk pipih dan siap untuk dipe (dijemur). (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Di pabrik yang bersanding dengan rumah tinggal ini, bernaung 35 pekerja berusia dominan senja yang menjadi tenaga utama produksi mi berwarna kusam ini. Nuansa senja ini kian kental dengan paduan ambient cahaya kecoklatan yang tercipta dari senyawa sinaran surya dengan kayu-kayu penopang pabrik ini. Pabrik ini memang mengandalkan jendela-jendela kaca yang mengundang sinaran surya untuk berlama-lama. Memandu para lelaki sepuh yang tempo kerjanya sudah tak gegas namun masih ajeg dan sesuai target.

Sunarjo, tengah memilah dan memilih emplek (satuan mi lethek) usai dijemur untuk dipak (dikemas). (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Seluas sapuan pandang, para lelaki sepuh ini menggarap bagiannya masing-masing. Terdapat beberapa istilah tersendiri dalam proses pembuatan mi lethek ini seperti dibi (mi dibentuk), dipe (mi dijemur), dipak (mi dimasukkan dalam kemasan).

Dua pasang kaki tengah memadatkan adonan mi lethek dengan cara diinjak-injak. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)
Usai dipadatkan dan dipotong menjadi balok-balok adonan, bakal mi lethek ini kemudian di masukan dalam oven selama 1,5–2jam. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko).

Secara garis besar proses pembuatan mi lethek bermula dari penggilingan, dioven, dicetak menjadi mi, dikeringkan, kemudian siap dikemas per 5 kilogram. Kesemuanya dikerjakan dengan piranti tradisional dan absen dari campuran bahan pewarna pun pengawet. Sehingga tak heran daya tahannya mampu menembus waktu 3 bulan.

Bagian paling menyita perhatian adalah nylender atau menggiling yang merupakan bagian awal dari proses pembuatan mi lethek. Proses ini memadukan kekuatan seekor sapi jantan dan 3 orang manusia.

Dua orang pekerja tengah memasukkan tepung tapioka dan tepung gaplek (singkong) sebagai bahan baku mi lethek. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)
Proses nylender (menggiling), memadukan seekor sapi jantan dan tiga manusia dalam mencampur tepung tapioka dan tepung gaplek (singkong) menjadi ulet. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)
Rebon (65), seorang pekerja di pabrik mi lethek yang bertugas menggiling tepung tapioka dan tepuk gaplek (singkong) dengan bantuan seekor sapi di belakangnya. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Menggiling serta mencampurkan tepung tapioka dan tepung gaplek (singkong) sebagai bahan baku pembuatan mi lethek, hingga ulet. Sapi diarahkan untuk berjalan memutari tempat serupa lumpang raksasa sembari menggerakkan ulekan batu berbentuk silinder selama 1,5 hingga 2 jam. “Alat ini inovasi peninggalan Abah Umar Nahdi”, aku Sunarjo, salah seorang pekerja di pabrik Mi Lethek Cap Garuda.

Mi lethek tengah dipe (dijemur) hingga kering, sebelum dipak (dikemas dalam plastik). (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Abah Umar Nahdi

Upaya menelisik kisah pertautan Arab dan Tionghoa di pabrik ini mengarah pada sosok Salma. Perempuan paruh baya yang wajahnya menguratkan rona khas Arab ini adalah keturunan pertama dari pendiri Mi Lethek Cap Garuda. Sang Abah, Umar Bisyir Nahdi, atau akrab disapa Abah Umar Nahdi adalah orang asli Yaman, salah satu negeri di Jazirah Arab. “Dulu Abah saya ini seorang mendring (tukang kredit). Banyak langgannya berasal dari Dusun Bendo. Di sini dulu banyak bermukim orang-orang Tionghoa, dan salah satunya memiliki usaha mi. Di tahun 1940-an mereka diusir dari Indonesia, lalu oleh teman Tionghoa-nya ini, Abah diminta meneruskan usaha pembuatan mie tersebut”, tutur Salma kembali menegaskan simpul pertautan Arab dan Tionghoa di tanah Jawa.

Seorang pekerja tengah memasukkan label merek ‘Mie Bendo Asli Cap Garuda’ pada mi lethek yang sudah dikemas dalam plastik. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Mi sebagai makanan yang berasal dari daratan Tionghoa dilanjutkan eksistensinya oleh orang berdarah Arab di tanah Jawa hingga kini. Penuturan Salma ini pun menjadi negasi bagi kabar di beberapa media yang mengatakan, usaha mi lethek ini berasal dari keluarga Arab - Tionghoa. “Saya ini tidak ada darah Tionghoa sama sekali. Ibu saya orang Jawa, asli Srandakan”, aku Salma dalam logat Jawa-nya yang kental.