Rizki Mengabdi Sedari Dini

Ketidakberbatasan dunia memudahkan arus informasi bermuatan budaya populer mengisi ceruk-ceruk dahaga siapa saja. Bagi generasi langgas, kemudahan ini kerap membuai mereka. Kealpaan literasi media membuat mereka tersesat. Tercerabut dari jati diri budayanya. Serta cenderung menghamba pada sang idola.

Berbeda dengan Rizki Kuncoro Manik (9), bocah langgas yang duduk di kelas 2 sekolah dasar ini menjelma anomali. Kala teman sepermainan gandrung permainan dalam gawai, ia memilih mengakrabi cerita kehidupan dalam pementasan wayang. Identitas budayanya begitu kental sedari belia. “Sejak usia 15 bulan, Rizki sudah meminta ikut bersama saya caos ke Keraton”, tutur Suyatiman, kakek Rizki.

Suyatiman Cerma Wicara (63), adalah kakek sekaligus ayah bagi Rizki. Dialah yang mendekap erat Rizki, sepeninggal sang ayah. Pun ibundanya yang kemudian bertolak ke negeri Saudi. Suyat, panggilan akrabnya, membesarkan Rizki dalam kultur Jawa yang kuat. Hal ini selaras dengan keseharian Suyat sebagai seorang Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Cita rasa tradisi Jawa telah mendaras pada bocah lelaki yang namanya merupakan pemberian Almarhum GBPH Joyokusumo, salah seorang kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Rizki juga merupakan salah satu abdi dalem kesayangan keluarga Keraton. Pun dengan para turis lokal dan mancanegara yang selalu menggebu untuk berswafoto bersama Rizki.

Saban sowan ke Keraton, Rizki bertugas mengawal perhelatan Wayang Kulit dan Wayang Kayu di Bangsal Sri Manganti. Jika waktu libur sekolah, ia akan membonceng sepeda onthel tua sang kakek dalam kursi rotan yang mulai tak muat. Dengan seragam peranakan lengkap, mereka berdua menerjang terik mentari untuk mengabdi. “Adem kok pakai peranakan”, aku Rizki tak tampak kepanasan.

Ia begitu nyaman dengan seragam kebanggannya ini. Begitu mengenakan peranakan, Rizki nampak lebih dewasa dan rupawan. Garis wajahnya dan simpul senyumnya mendaraskan ketulusan. Baktinya pada Sultan dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadikannya manusia yang lebih rendah hati dan berbudi pekerti. Seorang anak muda yang telah menyadari identitas budayanya. Bahkan mulai menggores citanya untuk menjadi seorang dalang dan penari tradisional Jawa.