Tuah Pamor Harumbrodjo

FOTO & CERITA: © ANGGERTIMUR LANANG TINARBUKO

Pendar liukan cahaya jingga memandu mata menemukan besalen, ruang tempa logam yang tampak kusam sebab dindingnya menghitam, dirambati sisa pembakaran arang yang beterbangan. Beriring pagi yang belum genap mengakrabi pukul 9, Pardi (67) dan Barno (38) memersiapkan api di perapen, tempat membakar logam. Keduanya adalah paman dan keponakan yang bekerja sebagai panjak, pembantu sang Empu keris. Berseragam serba hitam, lengkap dengan kacamata dan topi. Jika diamati, beberapa bagian pakaian mereka telah berlupang, ditembus ganasnya percik api saat menempa logam.

Barno (38) tengah menyalakan api di prapen. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Tak berapa lama, Ki Empu Sungkowo Harumbrojo (64) keluar dari sisi rumah utamanya menuju besalen. Ruang kerja ini ada sisi barat kediamannya yang terletak di Dusun Gatak, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Ia adalah pelaku utama atas mewujudnya keris-keris mandraguna di tanah Ngayogyakarta Hadiningrat sepeninggal sang ayahanda, Ki Empu Djeno Harumbrodjo. Ki Sungkowo menjadi penerus tunggal seni tempa pamor ini, sekaligus keturunan ke-17 dari Kyai Empu Tumenggung Supodriyo dari zaman Majapahit kuno.

Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo di bawah papan nama mending ayahanda, Ki Empu Djeno Harumbrodjo. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Di tahun 60-an, regenerasi seni tempa pamor ini sempat mandek. Bahan baku pamor yang berinti nikel atau batuan meteor maharnya begitu tinggi. Hukum pasar pun memaksa tradisi ini sesaat terhenti. Pun kala itu, Empu Supowinagun, ayah Empu Djeno tak secara detail mengajarkan cara menempa keris pada keempat anaknya. “Baru setelah simbah meninggal, bapak saya tiga kali didatangai simbah dalam mimpi”, tutur Sungkowo. Empu Djeno memaknai mimpi ini sebagai pesan untuk kembali menyalakan senyawa api dan logam dalam denyut nadinya. Berbekal pengetahuan yang dimiliki, Empu Djeno mulai menempa keris di awal tahun 70-an.

Setelah gelar Empu didapuk oleh sang ayahanda, Ki Sungkowo mulai diminta membantu. “Waktu itu sembari menunggu panggilan pekerjaan setelah lulus kuliah, saya mulai membantu bapak membuat keris sebagai panjak”, aku Sungkowo. Dahulu, lanjutnya, setiap pulang bekerja dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, ia melanjutkan membantu sang ayah hingga maghrib bersama Pardi, salah satu panjak yang masih setia hingga kini.

Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo saat duduk di ruang tamu yang berlatar keris-keris buatannya. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Berbekal pengetahuan dan pengalaman dari hulu-hilir dalam pembuatan keris, Sungkowo muda pun mulai dipercaya menggarap keris layaknya Empu. “Bapak biasanya hanya mengamati dan memberi masukan saja”, kata Sungkowo. Cita rasa estetisnya pun kian terasah seiring waktu. Tak hanya mencipta keris yang bertuah, namun sarat daya pikat.

Pembuatan Keris

Dalam pembuatan keris, Ki Empu Sungkowo dan sang pemesan akan bertemu. Profesi, serta tanggal lahir jadi data wajib untuk memandu kesesuaian pamor, luk (lekukan), serta ukiran yang berpengaruh pada dapur atau penamaan keris nantinya.

Setelahnya, Ki Empu Sungkowo akan berpuasa. Ritual ini disebut selapanan, yakni berpuasa selama 3 hari pada Rabu Pon, Kamis Wage, dan Jumat Kliwon yang mewakili 40 hari puasa penuh. Kemudian uborampe disiapkan. Tumpeng robyong yang dilengkapi ‘woh-wohan sing gemandul lan kemendem’ (buah-buahan yang menggantung dan tependam di tanah). Ditambah daun dadap serep dan gula jawa.

Lengkap dengan setiap syaratnya, tumpeng robyong ini kemudian dibagikan ke tetangga sekitar. Secara filosofis sebagai wujud syukur dan berbagi rejeki. Sekaligus memohon doa restu agar proses pembuatan keris berjalan baik.

Ki Empu Sungkowo Harumbordjo saat menarik keris dari sarungnya. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Penggunaan istilah uborampe, menurut Ki Empu Sungkowo sengaja dipertahankan ketimbang sesaji. “Sebagian masyarakat yang tak memahami tradisi serta fanatik agama menganggap hal ini sebagai perilaku syirik”, aku Sungkowo kecewa.

Kemudian, air kembang serta kemenyan di masukkan pada perapen, sebagai tanda mengawali proses menempa. Ki Empu Sungkowo bertanggung jawab melakukan proses tersebut hingga fase mijer pisan, api mulai menyala, baru kemudian diteruskan para panjak. Dari sini, proses pembuatan keris diambil alih para panjak. Pertama, membuat saton, satuan pamor. Saton terdiri dari dua lapis besi yang di tengahnya diisi pamor. Besi yang digunakan biasanya besi bekas rel kereta api yang kuat dan kokoh.

Proses pemotongan besi bekas rel kereta api sebagai bahan baku pembuatan keris. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Besi dipotong menjadi lempengan lalu dibakar sembari dibentuk sesuai ukuran. Pun pamor, ditempa lebih lama karena sifatnya yang lebih alot untuk dibentuk. Setelah keduanya siap, pamor akan disatukan dengan besi. Peristiwa ini sungguh ditunggu para penggemar fotografi. Sebab, dengan kecepatan rendah, percikan api dari tumbukan besi dan pamor mencipta garis-garis memesona yang memenuhi besalen. “Mas-mas fotografer sering minta dibuatkan percikan api untuk difoto. Sudah biasa besalennya penuh orang-orang pada motret” tutur Pardi dengan senyum ramahnya.

Alat-alat yang digunakan dalam seni tempa pamor Harumbrodjo. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Proses ini akan berjalan cukup lama hingga didapati model pamor yang diinginkan. Sang Empu pun mulai ikut andil dalam bagian ini. Sejatinya, model pamor hanya ada dua, yakni: Pamor Mlumah dan Pamor Miring. Dalam penamaannya dikenal Pamor Beras Wutah dan Pamor Ajeg. Namun seiring perkembangan permintaan muncul Pamor Reka atau pamor yang dibuat di luar pakem yang ada.

Proses pembentukan saton, satuan pamor. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Pamor sendiri merupakan hiasan sekaligus pusat tuah dari sebilah keris. Pamor sangat disesuaikan dengan sifat-sifat bawaan yang tercermin dari neptu dan neton pada penanggalan jawa. Sebab, di zaman modern ini, fungsi utama keris sebagai senjata tikam telah bergeser. Kini keris lebih digunakan sebagai pegangan pemiliknya. Kepemilikan atas sebilah keris yang dibuat khusus ini memiliki tuah yang dipercaya mampu membantu pemiliknya meraih cita. Sebagai piandel, pendorong sisi psikologis manusia dalam niatan dan perilakunya.

Salah satu keris bergagang tanduk buatan Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Tahapan selanjutnya adalah membuat kodokan, saton yang telah diberi sisi tajam berbahan baja. Fase ini cukup krusial dan sering dihampiri kegagalan. Ini adalah muasal keris yang berbentuk lurus. Kemudian, Ki Empu Sungkowo membentuk luk (lekukan) pada keris. Luk berjumlah ganjil mulai luk 3 hingga 13. Untuk profesi petani biasanya menggunakan luk 3, sementara luk 7 diperuntukkan bagi para piyayi sepuh.

Selebihnya tahapan penyempurnaan yang menuntut kepekaan rasa. Sebab keris juga menjadi barang investasi yang berharga tinggi. Untuk sebilah keris berpamor tempaan Ki Empu Sungkowo, dimahar 8 hingga 60 juta rupiah. Para penggemar keris dari Belanda, Jerman, Jepang, Singapura dan Malaysia pun antre untuk dibuatkan keris bertahta emas, bergagang tanduk, dan bersarung gading.

Keris bertahta emas milik pemesan asal Singapura. (foto: Anggertimur Lanang Tinarbuko)

Mahar tersebut sekilas terkesan mahal. Namun, coba tengok kembali proses pengerjaan yang dilakukan. Butuh 1–2 bulan penuh untuk sebilah keris sarat tuah mandraguna. Sebuah proses kecermatan, dan dedikasi terhadap tradisi yang wajib dihargai. Dedikasi ini pun tercermin dari nama sang Empu. Seakan memang berjodoh dengan profesinya. Sungowo dalam bahasa jawa berarti prihati. Sebuah laku yang wajib dititi sang Empu selama membuat keris bertuah Harumbrodjo.